Pakar Imunulogi Unair Ungkap Bahayanya Super Flu
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Rab, 7 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Munculnya istilah Superflu kembali menjadi perhatian publik seiring terdeteksinya varian Influenza A H3N2 Subclade K di Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si., menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai flu biasa.
Menurut dr. Agung, virus Influenza tipe A, termasuk H3N2, memiliki kemampuan mutasi yang sangat tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh dua protein permukaan utama, yakni Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), yang menjadi kunci perubahan karakteristik virus.
“Fenomena Superflu terjadi akibat antigenic drift atau mutasi genetik yang membuat virus terus berevolusi. Virus influenza, khususnya tipe A, sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” jelasnya.
Meski secara klinis gejalanya masih menyerupai flu pada umumnya—seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri otot—mutasi pada H3N2 meningkatkan risiko komplikasi serius, terutama pneumonia.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis menjadi populasi yang paling berisiko.
Diagnosis Molekuler Jadi Penentu Penanganan
Dalam situasi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan, dr. Agung menekankan pentingnya diagnosis laboratorium yang presisi.
Ia menyebutkan bahwa pemeriksaan molekuler menggunakan Real-Time PCR (RT-PCR) masih menjadi standar emas untuk memastikan jenis virus penyebab infeksi.
“Diagnosis cepat bukan hanya untuk menentukan terapi, tetapi juga penting untuk kepentingan surveilans. Kita perlu mengetahui strain apa yang beredar dan memantau kemungkinan resistensi terhadap obat antiviral yang digunakan saat ini,” ujarnya.
Tanpa diagnosis yang akurat, lanjut dr. Agung, penanganan bisa menjadi tidak tepat sasaran, sekaligus menyulitkan pemetaan potensi wabah di tingkat komunitas.
Salah satu langkah paling efektif untuk menekan risiko keparahan Superflu adalah vaksinasi influenza tahunan. dr. Agung menegaskan bahwa vaksin influenza perlu diperbarui secara rutin karena virus terus mengalami mutasi.
“Mengingat sifat virus yang dinamis, vaksin harus menyesuaikan strain yang sedang bersirkulasi. Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan di masyarakat juga ikut menurun,” tegasnya.
Ia menambahkan, vaksinasi tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya, tetapi terbukti mampu menurunkan risiko gejala berat, rawat inap, hingga kematian.
Selain vaksinasi, dr. Agung mengingatkan pentingnya tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Penggunaan masker saat sakit, mencuci tangan secara rutin, serta menjaga jarak di kerumunan masih relevan sebagai langkah pencegahan.
Dari sisi pengobatan, antiviral seperti Oseltamivir masih efektif, terutama jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala flu yang memburuk atau tidak kunjung membaik.
Sebagai penutup, dr. Agung mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan flu, terlebih di tengah musim hujan dan munculnya varian baru. (sms)
- Penulis: Shinta ms




