E-Wallet, Pilihan Menabung Milenial, Ini Kelebihan dan Kekurangannya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kam, 8 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Kebiasaan menabung di kalangan pemuda terus menunjukkan perkembangan yang baik seiring meningkatnya pemahaman tentang keuangan.
Akses terhadap informasi yang semakin meluas menyebabkan pembicaraan mengenai uang kini lebih terbuka dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Perencana Keuangan Budi Raharjo menilai perubahan ini sebagai sinyal baik bagi masa depan pengelolaan keuangan generasi muda. Menurutnya, milenial dan generasi Z kini mulai menempatkan perencanaan finansial sebagai bagian dari gaya hidup.
“Kesadaran menyisihkan penghasilan sudah tumbuh sejak dini, meski godaan gaya hidup tetap besar,” ujar Budi. Namun, dia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga membawa tantangan baru, salah satunya tren menyimpan dana di e-wallet.
Penggunaan dompet digital sebagai tempat menyimpan uang harian dianggap efisien, khususnya bagi kalangan Gen Z yang akrab dengan transaksi tanpa uang tunai. Meskipun demikian, Budi menekankan bahwa e-wallet memiliki kelemahan sebagai alat untuk menabung dalam jangka panjang.
“E-wallet memudahkan transaksi, tapi justru itu risikonya. Kemudahan ini bisa memicu belanja impulsif, dan dana di e-wallet juga tidak dijamin LPS seperti simpanan di bank,” katanya.
Selain faktor perlindungan dana, akses e-wallet yang sepenuhnya bergantung pada gawai juga menjadi catatan penting. Jika perangkat bermasalah atau akun terkunci, pemilik bisa kesulitan mengakses dana, termasuk dalam situasi darurat.
Meskipun demikian, Budi tidak menutup kemungkinan bahwa e-wallet masih memiliki peran dalam sistem keuangan kalangan muda. Terlebih jika aplikasi menawarkan fitur tabungan otomatis atau investasi dasar yang dapat menjadi awal bagi pemula.
“Kalau e-wallet punya fitur investasi dasar, itu bisa jadi sarana belajar. Tapi untuk tujuan jangka panjang, tetap dibutuhkan instrumen dengan manajemen risiko yang lebih terukur,” ujarnya.
Terkait strategi menabung, Budi menekankan pentingnya menentukan target yang realistis sejak awal. Dia menyarankan agar dana tabungan disisihkan di awal menerima penghasilan, bukan menunggu sisa di akhir bulan.
Langkah lain yang dinilai krusial adalah memisahkan rekening transaksi dan rekening tabungan. Dengan cara ini, arus kas lebih terkontrol dan godaan untuk menggunakan dana tabungan dapat ditekan.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, Budi juga mengingatkan pentingnya membangun fondasi finansial dasar. Kebutuhan pokok harus terpenuhi, gaya hidup dijaga, serta dana darurat disiapkan sebagai bantalan risiko.
Selain itu, perlindungan kesehatan seperti BPJS menjadi elemen yang tidak boleh diabaikan. Menurut Budi, tanpa proteksi, gangguan kesehatan bisa langsung mengguncang stabilitas keuangan, terutama bagi pekerja muda.
Dalam hal investasi, Budi mengingatkan anak muda untuk memahami tujuan sebelum mulai bertransaksi. Dia menilai fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan tren sebagai salah satu jebakan terbesar investor pemula.
“Investasi seharusnya dilakukan secara rutin dan sesuai profil risiko, bukan karena ikut-ikutan,” tegasnya. Untuk pemula, instrumen sederhana seperti reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, saham berkapitalisasi besar, dan emas dinilai lebih aman sebagai langkah awal.
Budi menilai, penguatan edukasi finansial tetap menjadi kunci agar generasi muda mampu berpikir jangka panjang. Semakin baik pemahaman tentang pengelolaan uang, semakin bijak pula keputusan finansial yang diambil.
Sebagai acuan sederhana, ia menyarankan pemuda untuk secara rutin memeriksa kondisi keuangan pribadi. Mulai dari anggaran bulanan, arus kas yang surplus, ketersediaan dana darurat, perlindungan aktif, hingga cicilan yang masih dalam batas wajar.***





Saat ini belum ada komentar