BBCA Aliran Dana Asing Mengalir Keluar Pasar Modal Indonesia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dalam tiga hari terakhir, pasar modal Indonesia mengalami aliran dana asing yang signifikan. Data menunjukkan bahwa sekitar Rp 2,71 triliun dana asing keluar dari pasar modal Tanah Air pada periode 19–21 Januari 2026. Pergerakan ini memicu penurunan harga saham sejumlah perusahaan besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bank Central Asia (BBCA) menjadi salah satu saham yang paling terkena dampak dari aksi jual asing. Net foreign sell pada saham BBCA mencapai angka Rp 2,44 triliun, jauh lebih besar dibandingkan saham-saham lainnya. Hal ini menunjukkan tekanan kuat dari investor asing terhadap emiten perbankan milik keluarga Djarum tersebut.
Rata-rata harga jual asing untuk saham BBCA mencapai Rp 7.918,5, sementara rata-rata harga beli berada di kisaran Rp 7.997,4. Perbedaan harga ini menunjukkan bahwa para investor asing cenderung menjual saham BBCA dengan harga lebih rendah, sehingga menyebabkan pelemahan harga saham sebesar 4,94% selama tiga hari tersebut.
Pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026), saham BBCA ditutup turun 300 poin atau 3,75% ke level 7.700. Pelemahan ini merupakan yang terdalam di antara saham-saham bank besar lainnya. Selain itu, BBCA telah keluar dari area konsolidasi 8.000-8.100, dan indikator RSI turun ke kisaran 33, mendekati area oversold. Ini menunjukkan kemungkinan pelemahan jangka pendek masih akan berlanjut.
Daftar Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar
Berikut adalah daftar 10 saham yang mengalami net foreign sell terbesar selama periode 19–21 Januari 2026:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp 2,44 triliun
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – Rp 1,25 triliun
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) – Rp 285,8 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) – Rp 208,1 miliar
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) – Rp 189,5 miliar
- PT Indika Energy Tbk (INDY) – Rp 186 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) – Rp 146,9 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) – Rp 146,5 miliar
- PT Timah Tbk (TINS) – Rp 142,9 miliar
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) – Rp 138,1 miliar
Saham BUMI juga mengalami tekanan jual asing yang cukup signifikan, dengan net foreign sell mencapai Rp 1,25 triliun. Rata-rata harga jual asing untuk saham BUMI berada di kisaran 388, sedangkan harga saham turun sebesar 5,85% dalam tiga hari terakhir.
Faktor Penyebab Aksi Jual Asing
Banyak analis menyatakan bahwa aksi jual asing ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Salah satunya adalah fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus-menerus mengalami depresiasi. Kondisi ini membuat investor asing merasa tidak aman dalam memegang saham di pasar modal Indonesia.
Selain itu, isu-isu makroekonomi seperti inflasi, suku bunga, dan kinerja perekonomian nasional juga turut memengaruhi keputusan investasi investor asing. Beberapa ahli ekonomi mengkhawatirkan bahwa jika kondisi ini tidak segera diatasi, aliran dana asing bisa terus mengalir keluar dan memperparah kinerja pasar modal.
Prediksi dan Rekomendasi Investasi
Meski situasi saat ini tampak suram, beberapa analis tetap optimis bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi untuk pulih. Namun, mereka menyarankan investor untuk lebih waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan ekonomi makro secara berkala, termasuk data inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta kebijakan moneter Bank Indonesia. Selain itu, penting bagi investor untuk memilih saham-saham yang memiliki kinerja keuangan yang stabil dan prospek bisnis yang menjanjikan.
Dengan situasi yang terus berubah, investor perlu memastikan bahwa portofolio mereka tetap seimbang dan siap menghadapi volatilitas pasar.

>

Saat ini belum ada komentar