Masuki Tahap Kritis, Pengadopsian AI Jadi Kunci Transformasi Pendidikan Nasional
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM — Indonesia dikatakan sedang memasuki tahap penting dalam perubahan pendidikan digital, di mana kecerdasan buatan (AI)dan pembelajaran mendalam tidak lagi sekadar menjadi topik pembicaraan, tetapi menjadi dasar baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara nasional.
Kepala Direktur Acer Indonesia, Leny Ng, menekankan bahwa para pemangku kepentingan di dunia pendidikan perlu menerapkan teknologi secara strategis, terencana, dan berkelanjutan agar dapat menghadapi tantangan era pembelajaran yang didasarkan pada teknologi canggih.
“Teknologi AI dan pembelajaran mendalam memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi proses pendidikan, tanpa mengurangi peran guru dalam membimbing dan memberi makna pada proses belajar,” katanya, Jumat (5/12/2025).
Dosen Utama FKIP UT, Tian Belawati, menekankan bahwa pengintegrasian teknologi canggih merupakan langkah penting untuk menghilangkan batasan wilayah dan sosial dalam mendapatkan akses pendidikan.
“Ini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan yang mendesak. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan berkualitas melalui sekolah dan guru yang kompeten,” tegasnya.
Menurut Tian, AI memungkinkan penyebaran konten pendidikan yang lebih merata, layanan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, serta peningkatan kemampuan guru melalui analisis dan otomatisasi.
Dorongan untuk mempercepat penerapan AI juga datang dari pihak pemerintah. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, menyatakan bahwa modernisasi pendidikan tinggi menjadi keharusan untuk memperkuat kompetitivitas Indonesia dalam era ekonomi yang berbasis pengetahuan.
“Kita perlu berpindah menuju ekonomi berbasis pengetahuan yang berlandaskan kemampuan mengelola ilmu sebagai nilai tambah dan keunggulan kompetitif nasional,” katanya.
Selanjutnya, Fauzan menjelaskan bahwa untuk mencapai hal tersebut, Indonesia perlu memperkuat dua pilar strategis. Pilar pertama adalah penguatan sisi perangkat lunak dengan mempercepat penerapan AI di berbagai bidang.
Pilar kedua berupa penguatan infrastruktur teknologi, khususnya sistem semikonduktor di dalam negeri, yang akan menjadi dasar penting bagi perubahan digital nasional.
Ia menyampaikan bahwa dua pilar tersebut menjadi syarat agar pemanfaatan AI dapat memberikan dampak nyata dan sejalan dengan agenda pembangunan dalam AstaCita Presiden dan Wakil Presiden.
“AI perlu memberikan manfaat yang luas. Bukan hanya sebagai alat teknologi, tetapi juga mendorong penggunaan energi terbarukan, memperkuat inovasi pertanian, mempercepat proses hilirisasi, serta mendorong perkembangan ekonomi digital,” ujarnya. ***

>
>
Saat ini belum ada komentar