Kemenko PM: Surabaya Jadi Tengah Perhatian Masalah UMKM dan Pendidikan Vokasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 12 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masalah UMKM dan Pendidikan Vokasi Jadi Fokus Diskusi di Surabaya
DIAGRAMKOTA.COM – Pembahasan masalah UMKM dan pendidikan vokasi kembali mendapat perhatian serius dalam dua forum yang digelar oleh Kementerian Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) di Surabaya. Acara ini menunjukkan bahwa tantangan struktural yang dihadapi pelaku usaha kecil dan menengah serta ketidaksesuaian antara kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri masih menjadi isu penting yang perlu segera diatasi.
Tantangan Utama UMKM di Daerah
Dalam forum konsultasi publik yang diselenggarakan di Universitas Airlangga, berbagai masukan dari pelaku usaha, akademisi, dan guru mengungkapkan beberapa hambatan utama yang dialami UMKM. Salah satu yang paling signifikan adalah rendahnya literasi pemasaran digital. Banyak pelaku usaha tidak memiliki kemampuan memanfaatkan platform online untuk memperluas jangkauan pasar mereka.
Selain itu, akses pasar yang terbatas juga menjadi kendala besar. Banyak UMKM kesulitan dalam menembus pasar yang lebih luas karena minimnya dukungan ekosistem seperti lembaga pembiayaan, jaringan distribusi, dan pengembangan produk yang kompetitif.
Kurikulum Vokasi yang Tidak Sesuai dengan Kebutuhan Industri
Di sisi lain, dialog SMK Go Global di SMKN 10 Surabaya menyoroti kesenjangan antara kurikulum pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. Guru dan siswa menyampaikan bahwa peralatan praktik di sekolah sering kali tidak memadai, sehingga sulit bagi siswa untuk memperoleh keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison, menilai bahwa masalah ini muncul karena kurangnya keterlibatan langsung antara pemerintah dan masyarakat dalam penyusunan kebijakan. Ia menekankan bahwa kebijakan yang efektif harus berasal dari pemahaman mendalam atas kondisi lapangan.
Rancangan Pasar 1001 Malam untuk UMKM
Salah satu inisiatif yang diusulkan dalam forum tersebut adalah “Pasar 1001 Malam”, sebuah paket kebijakan yang bertujuan memanfaatkan aset publik sebagai ruang promosi dan transaksi bagi UMKM. Asisten Deputi Pemasaran Usaha Masyarakat, Abdul Muslim, menjelaskan bahwa banyak aset pemerintah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami melihat banyak aset pemerintah yang ‘tidur’ atau belum optimal. Paket kebijakan ‘Pasar 1001 Malam’ akan mengaktivasi aset-aset tersebut menjadi ruang promosi dan transaksi yang produktif bagi UMKM,” ujar Muslim.
Rombongan Kemenko PM juga melakukan pertemuan dengan pejabat Pemkot Surabaya untuk meninjau aset kota yang mungkin masuk skema tersebut. Meskipun pembahasan masih bersifat eksploratif, inisiatif ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi pelaku UMKM.
Peran Pendidikan dalam Menghadapi Tantangan Pasar
Dialog di SMKN 10 Surabaya juga membuka mata para peserta tentang gap antara kurikulum, perangkat pendidikan, dan kebutuhan industri. Leon menegaskan bahwa pendidikan vokasi perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan permintaan pasar global.
“Dialog di SMKN 10 ini membuka mata kami tentang gap yang masih ada antara kurikulum, perangkat pendidikan, dan kebutuhan industri,” ujar Leon.
Meski belum ada keputusan kebijakan yang dihasilkan dari kunjungan ini, temuan dari Surabaya akan menjadi bahan pembahasan lanjutan. Kemenko PM berkomitmen untuk terus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan agar lebih sesuai dengan realitas lapangan. ***

>

Saat ini belum ada komentar