Pemkot dan Kementerian Turun ke Lapangan Atasi Sampah di Sungai Kali Tebu Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kota Surabaya, yang dikenal sebagai kota pesisir dengan keindahan alamnya, kini menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Tumpukan plastik, kaleng, dan sampah rumah tangga terjebak di trash boom Sungai Kali Tebu. Untuk menangani masalah ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan internasional.
Proses Pengelolaan Sampah di Kali Tebu
Petugas kebersihan melakukan proses pengelolaan sampah secara sistematis. Pertama, sampah diangkat dari sungai ke daratan lalu dimasukkan ke dalam karung. Setelah itu, sampah dibiarkan hingga setengah kering sebelum ditimbang dan diangkut ke bak mobil.
Program Pengelolaan Sampah Plastik Sungai digagas oleh United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kemenko Pangan, Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Plastik Laut (TKN PSL), Pemkot Surabaya, LSM Ecoton, dan Lohjinawi. Proyek ini dipilih sebagai pilot project karena memiliki potensi besar untuk mengurangi pencemaran sampah plastik di sungai sebelum bermuara ke laut.
Inisiatif Mozaik Project untuk Mengurangi Keberhasilan Sampah
Ketua Ecoton Daru Setyorini menjelaskan bahwa proyek ini disebut Mission for Zero Plastic Leakage atau The Mozaik Project. Tujuannya adalah mencegah sampah plastik mencapai laut.
“Kami memasang satu pencegat sampah di sungai supaya tidak masuk ke laut. Setelah dipasang pencegat ini, kami setiap hari melakukan pengangkatan sampah dan setelah sampah yang diangkat kami keringkan dulu kemudian ditimbang dihitung berapa berat total yang bisa diangkat pada hari ini,” ujar Daru.
Sampah yang telah diangkat kemudian dibawa ke TPS 3R untuk dipilah. Sampah organik diproses menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih bernilai dijual. Sementara residu sampah dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.
Peran DLH Surabaya dalam Pengelolaan Sampah
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya M. Fikser menyatakan bahwa program ini sudah berjalan di Kali Tebu dan Kali Merutu. “Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi lingkungan yang terlibat dalam program ini,” jelas Fikser.
Masyarakat sekitar juga turut serta dalam proses pengelolaan sampah. Sampah yang dikumpulkan tidak langsung dibuang, tetapi dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali.
Saat ini, sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton telah dimanfaatkan kembali melalui fasilitas TPS 3R dan aktivitas para pemulung. Sementara 1.600 ton lainnya dikirim ke tempat pemrosesan akhir, dengan sekitar 1.000 ton telah diolah melalui fasilitas gasifikasi menjadi energi listrik. Adapun sekitar 600 ton sisanya masih berakhir di area landfill.
Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik
Untuk mempercepat pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, pemerintah pusat menunjuk Surabaya sebagai salah satu lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Lahan seluas 5,8 hektare telah disiapkan di kawasan Sumberrejo dan saat ini tengah menjalani proses survei.
“Fasilitas tersebut ditargetkan mulai dibangun pada akhir tahun ini dan diharapkan mampu mengolah sisa sampah yang masih masuk ke landfill, termasuk sampah dari wilayah Surabaya Raya seperti Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan,” jelas Fikser.
Peran Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL)
Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, dan masyarakat.
“Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang,” pungkas Ahmad Bahri.
Langkah-Langkah Efektif dalam Pengelolaan Sampah
- Pencegahan: Memasang pencegat sampah di sungai untuk mencegah sampah masuk ke laut.
- Pengangkutan: Mengangkut sampah dari sungai ke daratan dan memilahnya.
- Pemanfaatan Ulang: Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik yang bernilai dijual.
- Edukasi: Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat sendiri, Surabaya berupaya mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Program ini tidak hanya membantu membersihkan sungai, tetapi juga memberikan solusi jangka panjang untuk pengelolaan sampah yang lebih efisien dan ramah lingkungan.***

>

Saat ini belum ada komentar