Ketua Komisi C DPRD Surabaya: Sekolah Sampah Solusi Inovatif untuk Membangun Kesadaran Lingkungan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Eri Irawan, Ketua Komisi C DPRD Surabaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang terus berkembang, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Setiap hari, sekitar 1.800 ton sampah dihasilkan, dengan hampir 60 persen di antaranya merupakan sampah organik. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan.
Permasalahan Sampah yang Masih Menghantui
Eri Irawan menyoroti bahwa pengelolaan sampah masih menjadi isu utama di banyak kota di Indonesia, termasuk Surabaya. Sampah organik seperti limbah dapur dan sisa makanan bisa berkontribusi pada peningkatan gas metana jika tidak dikelola secara optimal. Ini memperparah krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Menurutnya, solusi jangka panjang tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. “Kebiasaan memilah sampah rumah tangga menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengurangi beban TPA, menyelamatkan Bumi kita, sekaligus meningkatkan nilai guna sampah,” ujarnya.
Inisiatif “Sekolah Sampah” sebagai Upaya Edukasi
Untuk menjawab tantangan ini, Eri Irawan menginisiasi program edukatif bertajuk “Sekolah Sampah”. Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan, dimulai dari sumbernya.
“Sekolah Sampah” akan digelar pada 23 Mei 2026, dan rencananya akan dilanjutkan setiap bulan. Peserta akan mendapatkan materi edukasi tentang perubahan perilaku dalam mengelola sampah, termasuk pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.
Metode Pengolahan Sampah Sederhana dan Murah
Selain materi teoritis, peserta juga akan diberikan pembelajaran teknis yang mudah diterapkan. Metode pengolahan sampah organik menggunakan komposter, biopori, serta maggot skala rumah tangga akan diajarkan. Metode ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi volume sampah organik sekaligus memberikan manfaat lingkungan.
Setiap peserta akan mendapatkan gratis komposter/biopori untuk digunakan mengolah sampah organik di rumah atau lingkungan masing-masing.
Pentingnya Perubahan Perilaku
Eri Irawan menekankan bahwa langkah sederhana seperti memilah sampah bisa menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. “Sekolah Sampah” bukan hanya sekadar program edukasi, tetapi juga upaya untuk membangun kebiasaan positif di masyarakat.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Meski tantangan pengelolaan sampah masih ada, inisiatif seperti “Sekolah Sampah” menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil. Dengan partisipasi aktif masyarakat dan pendekatan yang berkelanjutan, Surabaya memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan, mulai dari tingkat individu hingga komunitas.***
- Penulis: Diagram Kota

>
>

Saat ini belum ada komentar