Trump Menghadapi Kenaikan Harga Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Harga minyak mentah mengalami kenaikan tajam pada akhir pekan lalu, dengan kontrak minyak mentah Brent bulan Juni sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun. Pada hari Jumat, harga minyak bergerak naik meskipun sebelumnya mengalami fluktuasi yang cukup besar. Pergerakan ini terjadi di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu kekhawatiran pasar akan stabilitas pasokan energi global.
Pasar Minyak Terus Mengalami Fluktuasi
Pada hari Kamis, kontrak minyak mentah Brent untuk bulan Juni mencapai US$126,41 per barel sebelum menurun sedikit menjadi US$114,01. Sementara itu, kontrak berjangka Brent Juli naik 0,9% menjadi US$111,34 pada pukul 7:17 pagi ET. Di sisi lain, kontrak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk bulan Juni diperdagangkan datar di US$105,07.
Pergerakan harga minyak ini terjadi dalam konteks politik yang rumit antara AS dan Iran. Presiden Donald Trump menghadapi tenggat waktu 60 hari terkait penggunaan kekuatan militer dalam konflik dengan Iran. Undang-undang tahun 1973 menyatakan bahwa presiden harus menarik pasukan dalam waktu 60 hari setelah memberi tahu Kongres tentang penempatan mereka, kecuali jika anggota parlemen menyetujui aksi militer tersebut.
Tenggat Waktu 60 Hari dan Gencatan Senjata
Kongres AS belum memberikan persetujuan untuk aksi militer, sehingga pemerintahan Trump menghadapi tenggat waktu 60 hari. Namun, pihak Gedung Putih berargumen bahwa gencatan senjata yang dicapai tiga minggu lalu telah “mengakhiri” permusuhan antara AS dan Iran. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk menghindari permintaan persetujuan Kongres untuk perang.
Seorang pejabat pemerintah mengatakan bahwa tidak adanya tembakan langsung antara pasukan AS dan Iran sejak gencatan senjata pertama kali disepakati pada 7 April berarti hitungan mundur 60 hari tidak lagi berlaku. “Untuk tujuan Resolusi Kekuatan Perang, permusuhan yang dimulai pada hari Sabtu, 28 Februari, telah berakhir,” kata seorang pejabat pemerintah kepada MSNow.
Ancaman dan Ketegangan Berlanjut
Meskipun ada gencatan senjata, ketegangan tetap tinggi. Presiden Trump meningkatkan ancaman terhadap Teheran, bersumpah untuk mempertahankan blokade AS terhadap Iran sampai Teheran menyetujui kesepakatan nuklir. Iran menolak untuk membuka kembali Selat Hormuz kecuali AS mencabut blokade pelabuhan Iran.
Axios melaporkan bahwa Komando Pusat AS telah menyiapkan rencana untuk gelombang serangan “singkat dan dahsyat” terhadap Iran dengan harapan dapat mematahkan perundingan yang macet antara Washington dan Teheran. Meski saat ini terjadi gencatan senjata, seorang pejabat senior dari Garda Revolusi Iran dilaporkan mengancam akan melakukan “serangan panjang dan menyakitkan” terhadap posisi AS jika Washington memperbarui serangan terhadap Iran.
Dampak pada Pasar Global
Kenaikan harga minyak ini juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Negara-negara yang bergantung pada impor minyak seperti Indonesia mulai memperhatikan dampaknya terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah. Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik bisa memicu lonjakan harga komoditas dan memengaruhi kebijakan moneter negara-negara berkembang.
Dengan situasi yang terus memanas, pasar minyak akan tetap sensitif terhadap perkembangan terbaru antara AS dan Iran. Kedua pihak masih saling mengirimkan pesan ancaman, sementara dunia mengawasi dengan cemas bagaimana konflik ini akan berakhir.***

>

Saat ini belum ada komentar