Koalisi Baru di Israel Tantang Kekuasaan Netanyahu
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Sebuah aliansi politik baru yang berpotensi mengubah dinamika pemerintahan di Israel sedang dibentuk oleh dua mantan Perdana Menteri (PM) negara tersebut. Eks PM Naftali Bennett dan Yair Lapid, yang memiliki latar belakang ideologi berbeda, akan menggabungkan partai mereka dalam persiapan pemilihan umum yang digelar akhir tahun ini. Langkah ini menandai upaya terbaru untuk melawan dominasi Benjamin Netanyahu, yang telah memimpin Israel selama lebih dari tiga dekade.
Visi Bersama untuk Perubahan
Dalam konferensi pers bersama, Lapid menyampaikan pesan kuat tentang keinginan untuk mengubah arah pemerintahan Israel. “Kita berdiri di sini bersama demi anak-anak kita. Negara Israel harus mengubah arah,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan harapan bahwa koalisi baru ini dapat membawa perubahan signifikan, terutama dalam hal kebijakan domestik dan hubungan dengan Palestina.
Bennett, yang sebelumnya memimpin pemerintahan kanan, menyatakan bahwa partai baru ini akan diberi nama Together dan dipimpin langsung olehnya. Ia menegaskan bahwa setelah 30 tahun kepemimpinan Netanyahu, saatnya bagi Israel untuk memulai babak baru. “Sudah saatnya berpisah dengan Netanyahu dan membuka babak baru bagi Israel,” tambahnya.
Kekuatan Politik yang Berubah
Netanyahu, yang selama ini dianggap sebagai tokoh yang sangat tangguh, tampaknya tidak merasa terancam oleh koalisi ini. Ia bahkan mengunggah foto dirinya bersama ketua partai Arab, Mansour Abbas, yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari kabinet yang sama pada 2021. Netanyahu memprediksi bahwa aliansi ini bisa kembali terbentuk, meski ia yakin akan menghadapi tantangan serupa seperti sebelumnya.
Pada 2021, Bennett dan Lapid pernah bergabung dalam satu koalisi, termasuk dengan UAL. Namun, aliansi tersebut hanya bertahan kurang dari 18 bulan karena munculnya perpecahan dan perbedaan pandangan, terutama terkait isu Palestina. Meskipun demikian, langkah kali ini menunjukkan bahwa kedua tokoh tersebut lebih siap untuk bekerja sama secara jangka panjang.
Kepemimpinan Netanyahu yang Mulai Goyah
Sejak masa jabatannya pertama pada 1990-an, Netanyahu telah menjadi sosok yang kontroversial, baik di dalam maupun luar negeri. Meskipun begitu, ia selama ini berhasil mempertahankan kekuasaan hingga pemilu 2022, di mana ia membentuk pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel. Namun, situasi mulai berubah setelah serangan Hamas pada Oktober 2023, yang memicu agresi besar-besaran Israel terhadap Palestina.
Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa posisi Netanyahu semakin goyah. Survei dari Times of Israel pada 19 Maret menunjukkan bahwa partai Likud, yang dipimpin oleh Netanyahu, akan memenangkan 28 kursi dari total 120 kursi Knesset, turun dari 34 kursi saat ini. Sementara itu, survei lain dari N12 News Israel memperkirakan bahwa partai Lapid hanya akan mendapatkan tujuh kursi, turun dari 24 kursi yang sebelumnya mereka pegang.
Peluang Koalisi Baru
Meskipun partai-partai sayap kanan dan keagamaan masih menguasai sebagian besar kursi, koalisi Bennett dan Lapid diperkirakan akan meraih 60 kursi jika faksi-faksi kecil juga bergabung. Ini menunjukkan bahwa potensi perubahan politik di Israel semakin nyata.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa para pemimpin Israel mulai sadar bahwa sistem politik yang selama ini dominan oleh Netanyahu mungkin tidak lagi bisa bertahan. Dengan koalisi baru yang lebih luas dan beragam, kemungkinan besar akan ada pergeseran dalam arah kebijakan negara tersebut.***

>

Saat ini belum ada komentar