Menteri PU: Kondisi Pembangunan Sekolah Rakyat Surabaya, Perbedaan Progres antara Wilayah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pembangunan infrastruktur pendidikan di Jawa Timur menunjukkan perbedaan signifikan antar daerah. Sejumlah proyek berjalan baik, sementara beberapa wilayah masih mengalami keterlambatan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat melakukan inspeksi langsung ke lokasi pembangunan Sekolah Rakyat.
Progres yang Menggembirakan di Surabaya
Salah satu lokasi yang mendapat apresiasi adalah Sekolah Rakyat di Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya. Menteri Dody menyebutkan bahwa progres pembangunannya telah mencapai 45 persen. Ia memuji kinerja pihak kontraktor, khususnya Waskita dan CAG, yang dinilai bekerja dengan baik.
“Bagus ini bagus progresnya. Kan saya minggu lalu sama minggu ini mengurus (meninjau) sekolah rakyat. Yang saya lihat Waskita top. Waskita top. Jadi sekolah rakyat dikerjakan Waskita dan CAG bagus. Progresnya 45 persen ya,” ujar Dody.
Sekolah yang dibangun seluas 6,2 hektare ini menggunakan tanah aset Pemkot Surabaya. Ia optimis proyek ini akan selesai sesuai target pada Juni mendatang. “InsyaAllah sesuai target. Ya mudah-mudahan sebelum 20 Juni ya. Perfect sekali,” tambahnya.
Pembangunan di Daerah Lain yang Tampak Lancar
Selain Surabaya, Dody juga menyebutkan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sampang Madura dan Jombang berjalan sesuai rencana. Di Sampang, progresnya sudah mencapai 40 persen. Meski luas areanya lebih besar (8,4 hektare), secara keseluruhan progres dinilai baik.
“Sampang itu memang luasnya lebih besar kan 8,4 hektare. Iya ya lebih besar lah. Tapi secara overall sudah bagus, yang agak tertinggal sedikit itu di Jombang tapi masih oke lah,” jelasnya.
Masalah di Nganjuk yang Menjadi Sorotan
Namun, ada satu wilayah yang menjadi perhatian serius bagi Menteri Dody, yaitu Nganjuk. Progres pembangunan Sekolah Rakyat di sana hanya mencapai 15 persen, jauh di bawah rata-rata daerah lain. Hal ini membuat Dody merasa tidak puas dan bahkan menyebutnya sebagai “sangat-sangat tertinggal”.
“Nganjuk kan memang sangat-sangat tertinggal ya. Masih berapa sih ini, 15 persenan lah,” keluhnya.
Fokus pada Pengawasan dan Efisiensi Anggaran
Dody menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk memastikan semua proyek infrastruktur pendidikan selesai tepat waktu. Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek agar tidak terjadi pemborosan anggaran.
“Pengawasan harus ketat. Anggaran harus digunakan secara efisien dan transparan,” tegasnya.
Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan
Meski ada daerah yang masih tertinggal, Dody tetap optimis bahwa kondisi pembangunan Sekolah Rakyat di Jawa Timur akan terus membaik. Ia menilai bahwa dengan pengawasan yang lebih ketat dan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan pihak kontraktor, target penyelesaian bisa tercapai.
“Kita harus bersama-sama bekerja keras agar semua anak di Jawa Timur mendapatkan akses pendidikan yang layak,” pungkasnya.***

>
>
Saat ini belum ada komentar