Diana AV Sasa Mengenang Sosok Adi Sutarwijono: Pemimpin yang Teguh dan Berdedikasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Adi Sutarwijono, Ketua DPRD Surabaya sekaligus tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), meninggal dunia pada Selasa (10/2/2026) malam. Kabar duka ini mengejutkan seluruh kalangan, terutama rekan-rekannya di partai dan masyarakat luas. Ia wafat di Jakarta setelah menjalani perawatan intensif dalam beberapa hari terakhir.
Sosok Adi Sutarwijono dikenal sebagai pemimpin yang teguh, rendah hati, dan penuh dedikasi. Ia tidak hanya menjadi figur penting dalam dunia politik Jawa Timur, tetapi juga menjadi panutan bagi banyak orang, termasuk kader PDIP seperti Diana AV Sasa. Dalam pengenangannya, Sasa menyebut almarhum sebagai guru dalam jurnalistik dan berpartai. “Dari beliau saya belajar: tenggat itu wajib. Tapi yang lebih wajib: tulisan harus tajam, menangkap momentum, dan berani menyebut yang benar itu benar,” ujar Sasa.
Kehidupan yang Diwarnai Cobaan dan Keteguhan
Diana AV Sasa mengungkapkan bahwa almarhum adalah pribadi yang telah ditempa oleh banyak cobaan namun tetap teguh. “Mas Awi ditempa banyak cobaan dalam berpartai. Tidak ringan. Tetapi beliau teguh. Dihadapi semuanya dengan gagah. Ia memilih jalan yang paling sunyi: memikul,” katanya.
Cobaan yang dihadapi Adi Sutarwijono tidak hanya dalam dunia politik, tetapi juga dalam kehidupan pribadi. Namun, ia selalu menunjukkan keteguhan dan kesabaran. Salah satu momen yang terkenang oleh Sasa adalah saat Mbak Puti (Puti Guntur Soekarno) maju sebagai Cagub Jawa Timur namun gagal menang. “Mas Awi pernah berkata: ‘Rasanya malu sekali ke Bu Mega. Cucu Bung Karno gagal kita menangkan,’” kata Sasa mengenang.
Bagi Sasa, ucapan itu bukan hanya sekadar komentar, melainkan tamparan halus yang mengingatkan bahwa setia itu konsekuen. Tanggung jawab tidak bisa diwakilkan, dan risiko harus diterima. Sabar bukan pasrah—sabar itu bertahan.
Proses Penguburan yang Penuh Duka
Jenazah Adi Sutarwijono akan disemayamkan di Grand Heaven Surabaya. Rencananya, pemakaman akan dilaksanakan pada Kamis di Taman Makam Keputih, Surabaya. Sasa mengucapkan rasa syukur dan doa untuk ketenteraman arwah almarhum serta kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Selamat jalan, Mas Awi… Suwun sak kabeh e, Mas… Mohon doa untuk ketenteraman arwah beliau dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan,” tutupnya.
Warisan yang Tak Terlupakan
Sosok Adi Sutarwijono tidak hanya dikenang sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai sosok yang merangkul dan membimbing. Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Daniel Rohi, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian almarhum.
Adi Sutarwijono meninggalkan warisan yang tak terlupakan. Dari perjalanan karier sebagai mantan wartawan hingga menjadi tokoh politik yang setia pada prinsip, ia meninggalkan jejak yang kuat dalam hati banyak orang. Dalam ingatan para rekan dan kader PDIP, ia adalah contoh nyata dari keteguhan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Kematian Adi Sutarwijono adalah kehilangan besar bagi partai dan masyarakat Jawa Timur. Ia meninggalkan warisan nilai-nilai luhur yang akan terus diingat dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Dengan kepribadian yang teguh dan sikap rendah hati, ia menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin membangun masyarakat yang lebih baik. ***

>
>
>
Saat ini belum ada komentar