Profil dan Perjalanan Karier Dominikus Adi Sutarwijono, Tokoh Politik Surabaya yang Meninggal Dunia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dominikus Adi Sutarwijono, atau yang akrab disapa Cak Awi, adalah tokoh politik penting di Kota Surabaya. Ia meninggal dunia pada usia 57 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker hati. Kematian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat Surabaya.
Adi Sutarwijono lahir di Blitar pada 4 Agustus 1968. Ia lulus dari Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Surabaya. Sebelum terjun ke dunia politik, ia memulai karir sebagai jurnalis. Pada masa Orde Baru, ia bekerja sebagai wartawan di Harian Surya. Kemudian, ia bergabung dengan Majalah Tempo antara tahun 1999 hingga 2003.
Perjalanan karirnya beralih ke dunia politik ketika ia memilih untuk bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Di partai tersebut, ia mulai menjabat sebagai anggota DPRD Surabaya pada 2012, mengisi sisa masa jabatan periode 2009–2014. Jabatan itu kemudian dilanjutkan pada periode 2014–2019.
Di internal PDIP, Adi Sutarwijono diamanahi posisi penting, seperti menjadi ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya periode 2019–2024. Selama masa jabatannya, ia juga dipercaya sebagai ketua DPRD Surabaya. Ia kembali terpilih sebagai ketua DPRD Surabaya untuk periode 2024–2029. Namun, sebelum masa jabatannya selesai, ia harus menghadapi kenyataan pahit: meninggal dunia.
Dedikasi dan Keberhasilan dalam Berpolitik
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, mengenang sosok Adi Sutarwijono sebagai sosok yang tangguh dan berdedikasi tinggi. Menurutnya, Adi memiliki komitmen kuat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Surabaya.
“Pekerja keras, teguh dalam berprinsip dan konsisten. Pengabdian dan keteladanan beliau akan selalu menjadi kenangan baik untuk kita semua,” ujar Deni.
Selama menjadi anggota DPRD, Adi Sutarwijono dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam menyuarakan kepentingan warga. Ia juga sering kali mengambil inisiatif untuk mendorong pemerintah daerah agar menerapkan kebijakan yang pro-rakyat. Salah satu contohnya adalah kebijakan parkir minimarket yang sesuai dengan regulasi.
Dinamika Politik dan Pencopotan Jabatan
Meski memiliki kontribusi besar, perjalanan politik Adi Sutarwijono tidak selalu mulus. Pada 2 Mei 2025, ia dicopot dari jabatan ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya. Penyebab pencopotan ini berkaitan dengan evaluasi hasil pemilu, pilkada, dan pileg.
Menurut Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Budi Sulistyo atau Kanang, penurunan perolehan kursi PDIP di DPRD Surabaya menjadi salah satu alasan. Pada Pileg 2024, partai tersebut kehilangan beberapa kursi, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja pengurus.
“Turunnya perolehan kursi dari 15 jadi 11 ini jadi evaluasi juga. Soliditas tentang rutinitas kinerja partai. Tentang rapat dan lainnya ternyata ada beberapa yang kurang ideal,” kata Kanang saat itu.
Proses Pemakaman dan Kenangan Bersama
Setelah meninggal dunia, jenazah Adi Sutarwijono akan dibawa ke DPRD Surabaya untuk penghormatan terakhir. Ia akan dimakamkan di TPU Keputih, Surabaya.
Keluarga dan rekan kerjanya mengungkapkan rasa duka yang mendalam. Mantan anggota DPRD Surabaya, Armuji, mengatakan bahwa Adi adalah orang yang baik, suka menolong, dan supel.
Kehidupan Pribadi dan Kontribusi Besar
Meski kariernya berada di tengah dinamika politik, Adi Sutarwijono tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Ia dikenal sebagai figur yang rendah hati dan peduli terhadap kebutuhan warga.
Kehidupan pribadinya juga tidak banyak diketahui secara detail. Namun, dari informasi yang ada, ia memiliki keluarga yang dekat dan mendukung segala langkahnya dalam berpolitik.
Dominikus Adi Sutarwijono adalah sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi Kota Surabaya. Dari awalnya sebagai jurnalis hingga menjadi tokoh politik, ia membuktikan bahwa dedikasi dan komitmen dapat membawa perubahan positif. Meski kariernya terhenti di tengah perjalanan, warisan dan kenangan yang ia tinggalkan akan terus diingat oleh banyak pihak.***

>
>
>
Saat ini belum ada komentar