Respons Purbaya: Kinerja Ekonomi Nasional dan Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Nilai tukar rupiah mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, dengan kurs yang hampir menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS. Hal ini memicu berbagai spekulasi di kalangan masyarakat dan pelaku pasar, termasuk mengenai isu independensi Bank Indonesia (BI) setelah adanya wacana pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons terkait pelemahan rupiah. Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari faktor fundamental ekonomi serta sentimen pasar yang bersifat sementara. Ia menegaskan bahwa pergerakan rupiah pada dasarnya akan mengikuti kondisi perekonomian nasional.
“Rupiah akan tergantung pada fundamental ekonominya. Anda lihat IHSG kan, berapa sekarang? 9.133, all time high,” ujarnya saat berbicara usai rapat tertutup dengan Komisi XI DPR RI.
Purbaya menjelaskan bahwa kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik. Ia yakin bahwa kondisi ini akan berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah di masa depan.
“Begini, kalau indeks naik itu pasti ada aliran dana asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level seperti itu, jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga karena suplai dolar akan bertambah,” tambahnya.
Isu Independensi BI dan Spekulasi Pasar
Purbaya juga menyampaikan bahwa ada spekulasi pasar yang menghubungkan pelemahan rupiah dengan isu independensi BI menyusul pencalonan Thomas Djiwandono. Thomas merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan mengganggu kemandirian BI.
“Saya pikir nggak akan begitu. Ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana (BI). Wow, orang spekulasi dia (BI) independensinya akan hilang,” ujarnya.
Ia optimistis bahwa spekulasi tersebut akan mereda seiring dengan terjaganya fondasi ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah saat ini fokus menjaga stabilitas dan likuiditas sistem keuangan serta mempercepat belanja negara di awal tahun untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Langkah Pemerintah dalam Menghadapi Ketidakstabilan Ekonomi
Purbaya mengungkapkan tiga langkah utama yang akan dilakukan pemerintah untuk menjaga fondasi ekonomi dalam negeri. Pertama, pemerintah akan memastikan bahwa likuiditas sistem finansial tetap baik. Kedua, program-program belanja pemerintah akan segera direalisasikan di awal tahun ini.
Selain itu, pemerintah juga berupaya memperbaiki iklim investasi melalui penyelesaian hambatan regulasi. Ia meyakini bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada tahun ini masih realistis, meskipun dampak stimulus ekonomi membutuhkan waktu untuk terlihat.
“Semuanya kita jalankan, 6 persen nggak terlalu sulit. Tahun ini 6 persen bisa karena ekonomi itu responnya cenderung agak lambat terhadap stimulus, pulih berapa bulan. Kalau saya inject sekarang, ke sistem mungkin 4 bulan baru kelihatan,” kata Purbaya.
Kondisi Terkini Rupiah dan Prediksi Masa Depan
Pada Senin (19/1), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp16.955 per dolar AS, dengan pelemahan sebesar 68 poin atau minus 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Meski demikian, pemerintah tetap percaya bahwa kondisi ekonomi nasional mampu menahan tekanan pasar.
Dengan berbagai langkah yang telah diambil, pemerintah berharap dapat memperkuat daya tahan ekonomi dan memulihkan kepercayaan investor. Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan dan pengelolaan perekonomian akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.***

>

Saat ini belum ada komentar