Ringkasan Berita:
– Gunung Arjuno di Jawa Timur kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Jumat, 16 Oktober 2026 malam.
– Kebakaran terekam dalam video amatir yang viral di media sosial, menampilkan bara api membara di lereng gunung terlihat jelas dari gerbang Tol Malang.
– BPBD Jawa Timur dan Tim Taman Hutan Raya (Tahura) telah bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman, meski belum diketahui luas area terdampak dan titik api pertama muncul.
Peristiwa Kebakaran Terjadi Malam Hari, Terekam Video Viral
DIAGRAMKOTA.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Gunung Arjuno, salah satu destinasi pendakian favorit di Jawa Timur. Insiden tersebut terjadi pada Jumat, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 22.00 WIB, dan langsung menjadi perbincangan publik setelah video amatir yang merekam bara api menyala kemerahan di lereng gunung beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman yang tersebar di Twitter, Instagram, dan TikTok, terlihat panjangnya nyala api yang membentang di bagian tenggara Gunung Arjuno. Fenomena ini bahkan bisa diamati secara jelas dari gerbang Tol Malang–Surabaya, menunjukkan intensitas api yang cukup tinggi dan memicu kekhawatiran atas potensi penyebaran lebih luas.
BPBD Jatim Konfirmasi, Tim Pemadaman Langsung Bergerak
Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, membenarkan adanya kebakaran di wilayah Gunung Arjuno. Ia mengatakan bahwa insiden tersebut sedang ditangani secara mendesak oleh petugas darurat.
“[Karhutla] di Gunung Arjuno,” kata Satriyo saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.
Ia menjelaskan bahwa tim dari Taman Hutan Raya (Tahura) serta personel BPBD Jawa Timur sudah diberangkatkan ke lokasi untuk melakukan upaya pemadaman. Namun, hingga saat ini belum ada data pasti mengenai titik awal api maupun luas areal yang terdampak.
“Masih dalam proses identifikasi dan evaluasi lapangan. Kami masih menunggu laporan lebih lanjut dari tim di lapangan,” tambahnya.
Ancaman Lingkungan dan Dampak bagi Pendaki
Gunung Arjuno, yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan, bukan hanya menjadi objek wisata alam tetapi juga merupakan ekosistem penting yang menjadi penyangga air dan keanekaragaman hayati. Kebakaran berulang kali terjadi di kawasan ini, terutama pada musim kemarau, ketika kekeringan membuat vegetasi mudah terbakar.
Kegiatan pendakian di Gunung Arjuno sempat diperketat tahun lalu setelah kebakaran besar merusak hamparan hutan. Kini, muncul kembali kekhawatiran serupa—apakah akan ada penutupan sementara jalur pendakian seperti yang pernah dilakukan sebelumnya?
Selain itu, kabut asap akibat kebakaran dapat mengganggu kualitas udara di sekitar kota-kota di sepanjang jalur Malang-Surabaya, termasuk Kota Probolinggo dan Lumajang.
Upaya Pencegahan dan Kolaborasi Antarpemangku Kepentingan
BPBD Jawa Timur menekankan pentingnya kolaborasi antara instansi terkait, masyarakat, dan pengelola kawasan hutan dalam mencegah kebakaran semakin meluas. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah atau melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di kawasan rawan.
“Kami terus koordinasi dengan Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, karena Gunung Arjuno berada dalam zona proteksi yang terintegrasi. Kesiapsiagaan harus terus dipertahankan,” ujar Satriyo.
Pihaknya juga meminta masyarakat untuk melapor jika melihat tanda-tanda kebakaran dini, baik melalui hotline BPBD maupun platform digital resmi.




















