DIAGRAMKOTA.COM – Pekan ini, layar bioskop Indonesia dipenuhi dengan pertarungan yang tak hanya terjadi di layar, tapi juga dalam angka penjualan tiket. Film adaptasi video game Street Fighter dan dokumenter tentang mantan bos Theranos, Elizabeth Holmes, menjadi sorotan utama. Dengan kisah-kisah yang berbeda namun sama-sama menarik perhatian, kedua film ini sukses menciptakan gelombang baru di dunia perfilman global.
Street Fighter: Kemenangan Kuat dari Dunia Game ke Layar Lebar
Film yang diadaptasi dari franchise legendaris Capcom ini membuka pekan dengan hasil impresif—$31 juta di pasar domestik. Angka ini menandai pembukaan terbaik untuk serial Street Fighter sejak 1994, meski masih kalah dari rilisan Mortal Kombat II tahun ini yang meraih $38,5 juta. Namun, performa Street Fighter kali ini lebih menjanjikan karena memiliki basis penggemar setia yang loyal dan antusias.
Kembali ke akar cerita, Street Fighter sebenarnya lebih dulu muncul daripada Mortal Kombat, dengan debut pada 1987—tiga tahun sebelum saingannya. Film pertama tahun 1994 dibintangi Jean-Claude Van Damme sempat gagal membangkitkan ekspektasi, hanya mengantongi $6,6 juta di awal. Tapi kini, reboot modern ini berhasil melampaui pendahulunya secara finansial, meskipun belum menunjukkan kualitas kritis yang luar biasa.
Dari sisi kritik, film ini mendapatkan skor 42% di Rotten Tomatoes—masih jauh dari standar tinggi, tapi cukup baik jika dibandingkan dengan film-film sejenis seperti Chun-Li (2009) yang hanya dapat 3%. Dengan anggaran produksi di atas $100 juta, target akhirnya ditargetkan di kisaran $65–75 juta di dalam negeri. Jika tidak ada lonjakan signifikan, kemungkinan besar film ini akan mengalami penurunan cepat, terutama dengan munculnya film DC yang menarik audiens serupa.
You Can See Everything: Dokumenter yang Mengguncang Pasar Bioskop
Di posisi kedua, dokumenter Nathan Fielder dan Lance Oppenheim berjudul You Can See Everything meraih $15 juta dalam 855 bioskop. Ini adalah pembukaan terbaik bagi film dokumenter non-konser sejak Fahrenheit 9/11 (2004), yang sempat mencatatkan $23 juta. Meskipun bukan film konser, pencapaian ini menunjukkan minat publik yang kuat terhadap narasi nyata tentang kebohongan bisnis dan korupsi kekuasaan.
Produksi A24 ini mengeksplorasi waktu Fielder bersama Elizabeth Holmes sebelum ia dihukum. Dalam kurun waktu singkat, film ini menjadi salah satu pembukaan terbaik dalam sejarah A24—hanya kalah dari Backrooms ($81,4 juta), Civil War ($25,5 juta), dan Primetime ($18,8 juta). Bahkan, ini merupakan salah satu dari empat film A24 yang membuka dengan lebih dari $10 juta dalam kurang dari 1.000 bioskop—sebuah rekor langka di era saat ini.
Film ini juga menunjukkan bahwa audiens tetap tertarik pada cerita yang mengungkap kebenaran, terlepas dari genre atau formatnya. Dengan total pendapatan global hampir $20 juta, You Can See Everything sudah menjadi hit besar bagi studio independen.
Other Mommy: Turun Cepat, Tapi Tetap Sukses
Meski Other Mommy mengalami penurunan drastis—turun 70% dalam minggu kedua—dengan pendapatan $8,3 juta, film horor dari Universal dan Blumhouse ini tetap menjadi salah satu film paling sukses tahun ini. Total pendapatan 10 hari mencapai $44,8 juta (hampir $79 juta secara global), menjadikannya kompetitor kuat di antara film horor Oktober lainnya.
Dibandingkan dengan The Exorcist: Believer atau Saw V, film ini berada di ujung bawah kisaran pendapatan, tapi tetap bisa masuk daftar 18 film horor Oktober yang mencapai $60 juta. Targetnya adalah melewati Saw V ($56,7 juta) dan Dracula Untold ($56,4 juta), agar bisa menempati posisi yang lebih tinggi dalam sejarah box office.
Film Lain yang Menjadi Perhatian: Whalefall, Sense and Sensibility, dan Residen Evil
Whalefall, adaptasi novel Daniel Kraus tentang pria yang terjebak dalam tubuh paus, hanya meraup $8 juta di dalam negeri. Meski punya skor 71% di Rotten Tomatoes dan B dari Cinemascore, film ini gagal menarik banyak penonton. Kehadirannya di bioskop tampaknya terlalu unik untuk bisa menjadi tren.
Sementara itu, Sense and Sensibility remake oleh Georgia Oakley meraih $7,2 juta dalam 2.545 bioskop—menjadi salah satu pembukaan terbaik untuk adaptasi Jane Austen dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dengan anggaran $25 juta, kemungkinan besar film ini akan gagal menutup biaya produksi.
Di sisi lain, Resident Evil terus bertahan. Dengan pendapatan $5,5 juta di minggu keenam, film ini mencapai $148,5 juta di dalam negeri—mengalahkan Hotel Transylvania dan mendekati $160 juta. Secara global, pendapatannya telah melebihi $340 juta, menjadikannya salah satu film horor paling sukses sepanjang masa.
Peristiwa Luar Biasa di Sektor Terbatas: The Devils & La Bola Negra
Salah satu kejutan terbesar datang dari pemutaran ulang The Devils karya Ken Russell. Dalam bentuk restorasi 4K dan rating NC-17, film ini tayang di 350 bioskop dan meraih $1,64 juta—rata-rata $46.857 per bioskop. Ini adalah salah satu rata-rata tertinggi tahun ini.
Netflix juga menunjukkan keberanian dengan merilis La Bola Negra secara terbatas—hanya di 4 bioskop—dan meraup $277.500, atau $69.375 per tempat. Ini menjadi peringkat keempat terbaik untuk rata-rata bioskop di 2026.














