DIAGAMKOTA.COM – Fenomena cuaca khas musim kemarau, yaitu bediding, terus melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur. Kondisi ini ditandai dengan penurunan suhu hingga mencapai 15°C, terutama pada malam dan pagi hari. BMKG menyatakan fenomena ini normal dan diprediksi akan berlangsung hingga Agustus.
Mengenal Fenomena Bediding
Bediding adalah kondisi alami yang sering terjadi menjelang puncak musim kemarau. Menurut Prakirawan BMKG Juanda Surabaya, Trya Chandra, fenomena ini dipicu oleh embusan angin muson timuran dari Australia yang membawa udara dingin dan kering. Selain itu, minimnya tutupan awan memungkinkan radiasi panas matahari melewati atmosfer secara maksimal.
“Bediding biasanya terjadi antara bulan Juni hingga Agustus. Ini bukan anomali, melainkan bagian dari siklus alami musim kemarau,” jelas Trya dalam keterangannya.
Suhu Dingin dan Pengaruhnya pada Warga
Beberapa warga Jawa Timur, termasuk Surabaya, mengeluhkan suhu yang terasa lebih dingin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Amalia Firdaus, warga Rungkut, mengatakan udara di kotanya terasa jauh lebih dingin, bahkan memengaruhi sensasi air saat mandi.
“Saat mandi, air juga terasa dingin hingga membuat saya menggigil,” ujarnya.
Trya menegaskan bahwa perasaan dingin saat mandi bukan disebabkan oleh penurunan suhu air secara drastis. Namun, efek dari suhu udara dan kelembapan rendah selama musim kemarau meningkatkan pelepasan panas tubuh, sehingga membuat perbedaan suhu antara tubuh dan air terasa lebih besar.
Prediksi Suhu dan Durasi Fenomena
Menurut data BMKG, suhu paling rendah akibat bediding bisa mencapai 15-18°C di dataran tinggi, sementara di dataran rendah berkisar antara 18-22°C. Durasi fenomena ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca, tutupan awan, kecepatan angin, dan karakteristik wilayah setempat.
Tips untuk Menghadapi Bediding
Untuk menjaga kesehatan selama musim bediding, Trya menyarankan masyarakat menggunakan pakaian hangat saat pagi dan malam hari. Ia juga menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga teratur.
Selain itu, petani di daerah dataran tinggi diminta waspada terhadap embun beku yang bisa merusak tanaman. Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Fenomena bediding di Jawa Timur merupakan bagian dari siklus alami musim kemarau. Meski suhu terasa lebih dingin, kondisi ini tidak terkait dengan perubahan iklim ekstrem. Masyarakat perlu memahami dan siap menghadapi dampaknya dengan menjaga kesehatan serta memperhatikan informasi cuaca terkini.***


















