Krisis Iran-US: Trump Klaim Perdamaian, Tapi Tehran Masih Skeptis
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pada 11 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa perang dengan Iran telah berakhir dan negara-negara terlibat sedang mendekati kesepakatan besar. Namun, pihak Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya kesepakatan yang final.
Dalam keterangannya, Trump menyatakan bahwa ia telah membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Iran karena “titik akhir” dari kesepakatan telah disetujui. Ia juga menyinggung kemungkinan penandatanganan kesepakatan dalam waktu dekat, mungkin di Eropa, yang akan dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance.
Namun, pihak Iran tidak sepenuhnya setuju. Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan bahwa laporan tentang kesepakatan yang telah selesai adalah “hanya spekulasi” dan bahwa Teheran belum membuat keputusan akhir tentang kesepakatan apa pun. Ia menambahkan bahwa tindakan AS terus memengaruhi proses diplomatik.
Selain itu, ada ketidakpercayaan terhadap klaim Trump dari kalangan tokoh Iran. Ebrahim Rezaei, anggota parlemen Iran, menyatakan bahwa kemungkinan kecurangan oleh Trump sangat tinggi. Ia menyarankan agar Iran terus melakukan serangan untuk memperkuat posisi mereka.
Peran Qatar dan Pakistan sebagai mediator
Negosiasi antara AS dan Iran melibatkan beberapa negara sebagai mediator, termasuk Qatar dan Pakistan. Menurut sumber yang mengetahui situasi ini, pertemuan antara pejabat Iran dan Qatar minggu ini membantu menyelesaikan beberapa titik yang masih menjadi masalah.
Trump juga mengklaim bahwa para pembicara Iran ingin kesepakatan “sebanyak atau bahkan lebih dari saya”. Namun, ia tidak merinci isi kesepakatan tersebut, hanya menyebut bahwa Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Dampak Ekonomi Global
Laporan World Bank menunjukkan bahwa perang Iran-US berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi global hingga ke level terendah sejak pandemi. Jika konflik terus berlanjut, pertumbuhan global bisa turun menjadi 1,3% pada 2026.
Harga minyak dan gas meningkat karena pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diproyeksikan lebih lemah dibanding tahun sebelumnya, dengan pendapatan per kapita di banyak negara tidak akan kembali ke tingkat pra-pandemi hingga setelah 2028.
Tindakan Militer dan Ancaman
Trump sebelumnya mengancam akan menyerang Kharg Island, yang menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran. Namun, ia akhirnya membatalkan rencana tersebut setelah klaim kesepakatan.
Di sisi lain, militer Iran mengingatkan bahwa respons mereka akan lebih keras jika AS kembali menyerang. Komando militer Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, menulis dalam pernyataan bahwa tindakan AS terus menciptakan ketidakstabilan di kawasan dan membahayakan perdagangan internasional.
Kontroversi dan Keberagaman Pendapat
Beberapa tokoh Iran tetap skeptis terhadap klaim Trump. Mereka menilai bahwa tindakan AS tidak konsisten dan sering kali bertentangan dengan pernyataan mereka. Sebaliknya, sejumlah pejabat AS optimis bahwa kesepakatan akan segera tercapai, meskipun sebelumnya beberapa klaim serupa gagal.
Konflik antara AS dan Iran terus memicu ketegangan global, baik secara politik maupun ekonomi. Meski Trump mengklaim bahwa perdamaian sudah dekat, pihak Iran masih menantikan konfirmasi resmi. Sementara itu, dunia mengamati bagaimana situasi ini akan berkembang dan dampaknya terhadap stabilitas regional dan global.***

>

Saat ini belum ada komentar