Dolar AS Melemah: Faktor Pemicu dan Analisis Kekhawatiran Ekonomi Global
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dolar AS mengalami penurunan pada Senin, 18 Mei 2026, dengan indeks dolar AS turun sebesar 0,3 persen menjadi 99,19. Penurunan ini terjadi karena aksi jual obligasi global yang mereda secara signifikan. Selain itu, para investor tetap berhati-hati di tengah sedikitnya tanda-tanda kemajuan dalam diplomasi antara AS dan Iran.
Peran Data Inflasi dan Ekspektasi Suku Bunga
Penurunan tajam pada pasar obligasi global telah membangun momentum selama minggu lalu dan mencapai puncaknya pada hari Jumat. Hal ini menyebabkan pencapaian “tertinggi sepanjang masa” untuk beberapa instrumen acuan seperti imbal hasil obligasi pemerintah Inggris 30 tahun, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 30 tahun, serta imbal hasil obligasi AS 30 tahun dan 10 tahun.
Aksi jual dipicu oleh data inflasi dari negara-negara ekonomi utama, termasuk AS. Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz berdampak besar pada harga konsumen dan produsen. Pasar merespons dengan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral global.
Stabilitas Imbal Hasil Obligasi
Pada hari Senin, penurunan di pasar obligasi mulai mereda. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik hampir 1 basis poin menjadi 4,608 persen, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun sedikit berubah di angka 5,127 persen.
Menurut alat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada hari Senin sebagian besar tetap tidak berubah dari pekan lalu. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga terlihat di setiap pertemuan komite kebijakan moneter yang tersisa tahun ini.
Kekhawatiran Ekonomi Akibat Perang Iran
Menurut Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics, kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh Perang Iran meluas melampaui kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Hal ini terbukti pada Jumat lalu ketika suku bunga melonjak.
“Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun melonjak menjadi 4,6 persen, yang berada di ujung atas kisarannya sejak sebelum Krisis Keuangan Global,” kata Zandi. “Ini mencerminkan perubahan ekspektasi yang cepat mengenai langkah selanjutnya Federal Reserve terkait suku bunga.”
Langkah Fed yang Berpotensi Meningkatkan Suku Bunga
Zandi menambahkan bahwa investor semakin berpikir bahwa langkah selanjutnya adalah menaikkan suku bunga. Dengan alasan yang kuat, perang tersebut mendorong ekspektasi inflasi, dan tidak ada yang lebih menakutkan bagi Fed selain ekspektasi inflasi yang tidak terkendali.
“Bahkan The Fed yang dipimpin Kevin Warsh akan menaikkan suku bunga kecuali ekspektasi segera mereda, dan akan terus menaikkannya sampai hal itu terjadi, terlepas dari dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan,” tambahnya.
Fokus pada Pertemuan G7
Selain situasi di pasar keuangan, fokus juga tertuju pada pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara-negara G7 di Prancis. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk membahas dampak makroekonomi dari konflik Timur Tengah.
Euro terakhir naik 0,3 persen menjadi USD1,1654, sementara poundsterling bertambah 0,8 persen menjadi USD1,3434. Yen Jepang sedikit melemah, dengan pasangan USD/JPY naik 0,1 persen menjadi 158,85.
Tindakan Tokyo untuk Stabilisasi Yen
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan bahwa ia telah mencatat pergerakan spekulatif di pasar keuangan dan bahwa volatilitas harga minyak berpengaruh. Para pelaku pasar mata uang percaya bahwa Tokyo turun tangan untuk meningkatkan yen pada akhir April.***

>
>

Saat ini belum ada komentar