Rupiah Kembali Terpuruk, Tembus Rekor Baru di Rp17.300
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Rupiah kembali mengalami pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 23 April 2026. Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,79% ke posisi Rp17.305 per dolar AS. Angka ini menjadi rekor terburuk sepanjang masa secara intraday dan menandai jebolnya level psikologis baru di angka Rp17.300.
Pergerakan rupiah terus menurun sejak awal perdagangan. Pada pagi hari, rupiah dibuka melemah sebesar 0,23% ke level Rp17.210 per dolar AS. Dalam waktu singkat, tekanan terhadap mata uang Garuda semakin dalam, hingga mencapai level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) naik tipis sebesar 0,04% menjadi 98,627. Pergerakan ini menunjukkan bahwa dolar AS tetap diminati sebagai aset aman, terutama dalam situasi ketidakpastian global yang tinggi. Beberapa faktor seperti ketegangan antara AS-Israel dengan Iran serta meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz turut memperparah tekanan terhadap rupiah.
Sejarah Pelemahan Rupiah: Dari Krisis Moneter Hingga Ketidakstabilan Global
Sejarah rupiah penuh dengan periode-periode pelemahan yang berulang. Beberapa momen kritis antara lain:
- Agustus-Oktober 1997: Rupiah mengalami depresiasi besar akibat krisis moneter. Pada saat itu, kurs rupiah merosot dari sekitar Rp2.500/US$ menjadi kisaran Rp3.000/US$.
- Mei-Juni 1998: Rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang masa di 15.200/US$. Situasi ini dipicu oleh krisis ekonomi yang berujung pada kerusuhan sosial dan politik.
- April 2001: Rupiah kembali tertekan akibat ketidakpastian politik dan hubungan yang memburuk dengan IMF.
- Oktober-November 2008: Krisis finansial global yang dimulai dari runtuhnya pasar perumahan AS memicu penarikan dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
- September 2015: Depresiasi rupiah dipengaruhi oleh normalisasi kebijakan moneter AS dan devaluasi yuan China.
- Maret 2020: Pandemi Covid-19 memicu kepanikan global, sehingga investor menarik dana dari pasar negara berkembang.
- Mei-Juni 2024: Rupiah kembali melemah akibat suku bunga The Fed yang tinggi dan ketidakpastian global.
- April 2025: Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif, memicu gejolak pasar keuangan.
- Awal Januari 2026: Rupiah mencatat level terlemah sepanjang masa setelah menembus Rp16.935/US$.
- April 2026: Rupiah kembali terpuruk dan menembus level Rp17.305/US$, menjadi rekor terbaru dalam sejarah.
Faktor Eksternal dan Internal yang Mempengaruhi Rupiah
Faktor eksternal seperti ketidakstabilan global dan kebijakan moneter AS tetap menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Di sisi lain, kondisi fiskal dalam negeri juga turut berkontribusi. Defisit APBN 2025 sebesar 2,92% atau sekitar Rp695,1 triliun meningkatkan kekhawatiran investor asing terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 April 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, tekanan terhadap rupiah masih terasa kuat, terutama karena ketidakpastian di kawasan Timur Tengah dan volatilitas pasar keuangan global.
Perspektif dari Narasumber
“Kami melihat bahwa rupiah masih sangat rentan terhadap sentimen pasar global,” kata seorang analis keuangan. “Suku bunga The Fed yang tinggi dan kebutuhan akan aset aman seperti dolar AS terus memberi tekanan.”
Selain itu, narasumber lain menyampaikan bahwa “kebijakan BI harus lebih proaktif dalam menghadapi tekanan eksternal, terutama dalam mengelola arus modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar.”***
- Penulis: Diagram Kota

>

Saat ini belum ada komentar