Kehidupan di Desa Latas: Tradisi Kerasukan yang Berubah Jadi Pesta
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah hutan yang masih terjaga, terletak sebuah desa bernama Latas. Di sini, tradisi kerasukan bukan lagi dianggap sebagai hal yang menakutkan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat setempat memandang kerasukan sebagai cara untuk melepaskan beban hidup dan menciptakan kesenangan bersama. Dalam film Para Perasuk, kisah ini dibawa ke layar lebar dengan pendekatan yang unik dan penuh makna.
Film ini mengisahkan Bayu (diperankan oleh Angga Yunanda), seorang pemuda muda yang memiliki ambisi besar untuk menjadi Perasuk Utama. Baginya, kerasukan bukan sekadar ritual, tetapi juga alat untuk menyelamatkan desanya dari ancaman privatisasi mata air keramat. Ia percaya bahwa dengan menggelar pesta kerasukan besar-besaran, ia bisa mengumpulkan dana untuk menjaga kelangsungan hidup desa. Namun, ambisi ini juga membawanya pada konflik batin yang dalam.
Karakter yang Tidak Biasa dan Peran yang Menyentuh
Dalam film ini, para pemain tampil luar biasa. Angga Yunanda memberikan performa yang sangat intens, terlihat dari transformasi fisiknya yang luar biasa. Ia tidak hanya berperan sebagai tokoh utama, tetapi juga memperlihatkan sisi-sisi emosional yang kompleks. Sementara itu, Maudy Ayunda tampil sangat berbeda dari peran-perannya sebelumnya. Sebagai Laksmi, ia menunjukkan aura melankolis yang kuat dan gerakan tubuh yang puitis saat adegan kerasukan berlangsung.
Selain itu, Anggun C. Sasmi juga memberikan penampilan yang mengejutkan. Sebagai Guru Asri, ia memberikan wibawa yang luar biasa, menggunakan suaranya yang khas untuk merapal mantra-mantra yang membuat suasana film semakin mendalam.
Simbolisme yang Mendalam dan Pesan Sosial yang Kuat
Wregas Bhanuteja, sutradara film ini, menggunakan simbolisme yang kuat dalam setiap adegan. Ia memperkenalkan konsep ruh binatang seperti Roh Kancil, Roh Macan, dan Roh Lintah sebagai metafora emosi manusia. Kerasukan di sini bukan hanya tentang pengaruh supernatural, tetapi juga representasi dari pelepasan topeng sosial yang selama ini dipendam.
Sinematografi film ini juga patut diapresiasi. Penggunaan cahaya matahari yang terik di tanah lapang saat pesta kerasukan menciptakan kontras yang menarik. Ini adalah bentuk horror yang tidak mengandalkan jumpscare, melainkan ketidaknyamanan psikologis yang terasa jelas.
Isu Lingkungan dan Etika dalam Film
Film Para Perasuk juga menyentuh isu lingkungan yang relevan dengan kondisi saat ini. Ancaman terhadap mata air keramat menjadi simbol dari keserakahan manusia dan hilangnya koneksi dengan alam. Pertanyaan etis muncul: Apakah tujuan yang mulia menghalalkan segala cara? Wregas menunjukkan bahwa ambisi yang berlebihan bisa berujung pada kerusakan yang lebih besar.
Rekomendasi untuk Penonton yang Ingin Menggali Makna
Film ini adalah sebuah mahakarya drama-supranatural yang cerdas. Ia berhasil keluar dari pakem film horor Indonesia yang membosankan. Wregas Bhanuteja membuktikan bahwa ia adalah sutradara yang mampu membawa narasi lokal ke level global tanpa kehilangan identitas budayanya.
Bagi kamu yang ingin menyaksikan kolaborasi akting Angga Yunanda, Maudy Ayunda, dan Anggun C. Sasmi, film ini sudah dapat disaksikan di layar lebar mulai tanggal 23 April 2026. Pastikan untuk menontonnya di bioskop ya, guna mendapatkan pengalaman audiovisual yang maksimal, terutama untuk mendengar raungan mantra dari Guru Asri dan musik latar yang mencekam.***
- Penulis: Diagram Kota

>

Saat ini belum ada komentar