Jakarta Kembali Terendam Banjir Akibat Curah Hujan Tinggi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 17 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Jakarta kembali menghadapi situasi darurat banjir setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Minggu (8/3/2026). Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menunjukkan bahwa sebanyak 148 RT di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat terendam air. Selain itu, 20 ruas jalan utama juga tergenang, dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa titik.
Banjir yang terjadi kali ini disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, yaitu sebesar 264 milimeter per hari. Hal ini membuat saluran air tidak mampu menyerap air secara optimal, sehingga menyebabkan meluapnya sungai-sungai seperti Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, dan Kali Mampang. Di Jakarta Selatan, khususnya di Duren Tiga dan Pela Mampang, banjir mencapai ketinggian hingga 1,5 meter.
Di Pejaten Barat, sebanyak 46 keluarga atau 72 warga mengungsi ke Mushala Al Inayah akibat banjir. Sementara itu, seorang pesepeda motor tewas tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Lenteng Agung pada pukul 02.31 WIB.
Titik Terparah Banjir di Jakarta
Wilayah Jakarta Timur menjadi salah satu daerah yang paling terdampak. Banjir merendam 60 RT, dengan titik terparah di Kampung Melayu dan Cipinang Melayu. Ketinggian air di area tersebut mencapai 80 cm hingga 1,25 meter. Di Jakarta Barat, Rawa Buaya direndam banjir hingga ketinggian 1,2 meter, sementara di Kedoya Selatan dan Sukabumi Selatan, air mencapai 1 meter.
Selain permukiman, 20 ruas jalan utama seperti Jalan Daan Mogot, Jalan Ciledug Raya, dan Jalan Kapten Pierre Tendean juga tergenang. Beberapa jalan lain seperti Jalan Bendungan Hilir, Jalan Petamburan II, serta ruas jalan di Srengseng, Pesanggrahan, dan Kelapa Gading juga terkena dampak banjir.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Banjir
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan bahwa pompa-pompa banjir telah disiagakan untuk mempercepat penurunan ketinggian air. Namun, ia mengingatkan adanya potensi banjir kiriman dari hulu, terutama dari Bogor, Jawa Barat. Menurutnya, normalisasi tiga sungai utama, yaitu Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut, sedang berjalan sesuai rencana.
Pramono menjelaskan bahwa meskipun normalisasi dilakukan, sepenuhnya menghilangkan banjir di Jakarta tidak mungkin terjadi. Hal ini karena permukaan air laut saat ini lebih tinggi daripada permukaan tanah di Jakarta.
Terkait Kali Krukut, Dinas Sumber Daya Air Jakarta merencanakan normalisasi sepanjang 1,3 km. Proyek ini akan dimulai dari segmen Tarakanita sampai Jembatan Tendean. Area terdampak seluas 1,52 hektar dan kebutuhan pembebasan 65 bidang tanah diperlukan dalam proyek ini.
Sementara itu, normalisasi Sungai Ciliwung ditargetkan sepanjang 4 km hingga akhir tahun 2027. Pembebasan tanah dikebut sepanjang tahun 2026 di Cawang, Rawajati, dan Pengadegan.
Masalah Drainase yang Mengkhawatirkan
Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur Jakarta Yustinus Prastowo menyampaikan bahwa drainase yang kurang memadai menjadi salah satu penyebab banjir. Hasil identifikasi di lapangan menunjukkan bahwa saluran air sudah tidak cukup untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Yustinus menambahkan bahwa desain saluran air akan direvisi agar lebih sesuai dengan kondisi saat ini. Selain itu, ruang terbuka hijau yang mulai berkurang juga menjadi perhatian dalam rencana tata ruang wilayah.
Pemprov Jakarta juga berencana menambah waduk dan embung, serta membangun tanggul laut raksasa (giant sea wall) sebagai upaya jangka panjang mengurangi risiko banjir.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar