Upaya Jawa Tengah Menghadapi Ancaman Virus Nipah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Virus Nipah, yang dikenal sebagai penyakit zoonosis, kini menjadi perhatian serius di Jawa Tengah. Meski hingga saat ini belum ada kasus infeksi virus tersebut yang terdeteksi di wilayah ini, pemerintah setempat telah mengambil langkah-langkah antisipatif untuk mencegah penyebarannya. Pengawasan diperketat, terutama di pintu-pintu masuk seperti bandara internasional, guna memastikan tidak ada individu yang membawa virus tersebut ke dalam wilayah.
Penularan dan Gejala Virus Nipah
Virus Nipah bisa menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar sebagai inang alami utamanya. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, atau bahkan melalui kontak erat antarmanusia. Setelah paparan, gejala biasanya muncul dalam waktu 4 hingga 14 hari, termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Dalam beberapa kasus, gejala lebih berat seperti mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan pneumonia juga bisa terjadi.
“Karena gejalanya mirip flu, jangan dianggap enteng. Jika gejala memburuk, segera kunjungi fasilitas kesehatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yunita Dyah Suminar.
Langkah Pencegahan yang Dilakukan
Untuk mencegah penyebaran, masyarakat diimbau untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, dilarang mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon karena risiko terkontaminasi tinggi. Sebelum memakan buah, penting untuk mencuci dan mengupasnya secara menyeluruh. Masyarakat juga diminta tidak mengambil buah yang jatuh dari pohon, terutama jika ada tanda gigitan hewan.
Yunita juga menyarankan agar masyarakat menghindari kontak langsung dengan hewan yang diduga terinfeksi. Petugas pemotong hewan diharapkan menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja.
Sistem Pengawasan di Tingkat Desa
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa pihaknya memiliki sistem pengawasan kesehatan hingga tingkat desa. Program dokter spesialis keliling (Sipeling) digunakan sebagai sarana deteksi dini. “Kami yakin sistem penjagaan kami luar biasa,” ujarnya.
Pengawasan di Bandara Internasional
Di Jawa Tengah, dua bandara internasional menjadi pintu masuk bagi pendatang dari luar negeri. Salah satunya adalah Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Pengelola bandara mengetatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional, terutama dari negara-negara yang dilaporkan mengalami wabah virus Nipah.
“Balai Karantina Kesehatan Kelas I Semarang melakukan pemantauan penumpang internasional dengan thermal scanner untuk mendeteksi suhu tubuh,” ujar Arif Haryanto, perwakilan dari Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang.
Petugas akan melakukan observasi lanjutan terhadap penumpang yang menunjukkan gejala demam atau sakit. Penumpang yang merasa tidak sehat diharapkan melapor kepada petugas agar bisa diperiksa lebih lanjut.
Konteks Sejarah dan Perkembangan Virus Nipah
Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998 di Malaysia, setelah menyebar di antara peternakan babi. Nama virus tersebut berasal dari desa tempat virus ditemukan. Sejak itu, kasus infeksi virus Nipah telah dilaporkan di Bangladesh, India, Filipina, dan Singapura. Pada tahun 2026, wabah kembali terjadi di India, memicu kekhawatiran global.

>

Saat ini belum ada komentar