Pengungkapan Dokumen Kasus Jeffrey Epstein yang Mencengangkan Publi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengungkapan dokumen terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein telah memicu perhatian luas di seluruh dunia. Dokumen ini, yang baru saja dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS), menunjukkan berbagai informasi yang mengejutkan dan menimbulkan spekulasi besar. Proses pengungkapan ini dilakukan sebagai bagian dari undang-undang transparansi yang disahkan oleh parlemen AS pada November 2025, yang mewajibkan pihak berwenang untuk mengungkapkan semua dokumen terkait kasus Epstein.
Dokumen yang dirilis mencakup lebih dari tiga juta halaman, 2.000 video, dan 180.000 gambar. Meski begitu, sebagian dari dokumen tersebut disensor karena keterbatasan hukum yang mengizinkan penutupan informasi tertentu untuk melindungi identitas korban atau menjaga investigasi aktif. Proses penyensoran ini sempat menuai kritikan dari beberapa anggota parlemen AS.
Alasan Penundaan Pengungkapan Dokumen
Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menjelaskan bahwa proses pengungkapan dokumen Epstein membutuhkan waktu yang cukup lama karena jumlah dokumen yang sangat besar. Menurutnya, ratusan pengacara bekerja siang dan malam selama berminggu-minggu untuk meninjau dan mempersiapkan dokumen-dokumen tersebut agar dapat dirilis ke publik. Selain itu, ada kebutuhan untuk melakukan penyensoran secara teliti demi melindungi identitas korban Epstein, yang jumlahnya diduga melebihi 1.000 orang.
Blanche juga memberikan pembelaan atas lambatnya proses pengungkapan dokumen Epstein. Ia menyatakan bahwa undang-undang transparansi yang diberlakukan menuntut pihak berwenang untuk mengungkapkan semua dokumen sebelum tanggal 19 Desember 2025, tetapi mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengkaji dokumen-dokumen tersebut.
Klaim Tidak Benar Terhadap Presiden Trump
Dalam siaran pers saat mengumumkan publikasi dokumen Epstein, Departemen Kehakiman AS menyebut beberapa dokumen berisi “klaim tidak benar dan sensasional” mengenai Presiden Donald Trump. Klaim tersebut diserahkan kepada FBI tepat sebelum pemilu tahun 2020. Departemen Kehakiman AS menegaskan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan salah, serta jika memiliki sedikit kredibilitas, tentu sudah akan digunakan sebagai senjata melawan Presiden Trump.
Blanche, yang pernah menjadi pengacara pribadi Trump, menepis tuduhan soal materi memalukan tentang Trump dalam dokumen Epstein telah disensor. Ia menegaskan bahwa Gedung Putih “tidak memberitahu departemen ini soal bagaimana melakukan peninjauan kami, apa yang harus diperiksa, apa yang harus disensor, apa yang tidak boleh disensor”.
Nama-Nama Tokoh Terkemuka dalam Dokumen
Dokumen Epstein juga menyebutkan nama-nama tokoh terkemuka dunia, seperti Bill Gates. Email-email Epstein yang diungkap ke publik menunjukkan bahwa Bill Gates sering kali disebut dalam korespondensi dengan Epstein. Salah satu email yang menarik perhatian adalah email yang membahas simulasi pandemi, yang dibuat tiga tahun sebelum wabah virus Corona (COVID-19) melanda dunia.
Email tersebut menunjukkan bahwa Epstein bekerja sama dengan Gates dan timnya dalam berbagai proyek, termasuk simulasi pandemi, senjata neuroteknologi, data kesehatan digital, penyakit kronis dan ilmu otak, serta ekonomi kesehatan. Topik-topik ini menimbulkan spekulasi besar, terutama mengenai hubungan antara Epstein dan Gates.
Kesaksian Bill Clinton dan Pangeran Andrew
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton dan istrinya, Hillary Clinton, bersedia memberikan kesaksian langsung dalam penyelidikan DPR AS terkait mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Nama Bill Clinton disebut berulang kali dalam dokumen kasus Epstein yang dirilis ke publik pekan lalu.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa mantan Pangeran Andrew seharusnya beraksi di hadapan komite Kongres Amerika Serikat (AS). Dokumen tersebut mencakup sejumlah email yang menunjukkan adik laki-laki Raja Inggris Charles III itu tetap berkomunikasi rutin dengan Epstein selama lebih dari dua tahun setelah dia dinyatakan bersalah atas kejahatan seksual terhadap anak.
Raja Charles telah melucuti gelar pangeran dari Andrew dan mengusirnya dari kediaman resminya di Kastil Windsor pada November lalu, setelah terungkap hubungannya dengan Epstein. Mantan pangeran berusia 65 tahun itu kini menggunakan nama keluarga Andrew Mountbatten-Windsor. Dia membantah telah melakukan pelanggaran hukum terkait hubungannya dengan Epstein.

>

Saat ini belum ada komentar