Emas Mencetak Rekor Baru, Investor Terpukau dengan Kenaikan Harga
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Harga emas global kembali mencatat rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal pekan ini, harga emas spot mengalami lonjakan signifikan, menembus angka US$ 5.000 per ons troi. Pergerakan ini menjadi sorotan utama bagi para investor dan pelaku pasar keuangan, yang melihat emas sebagai aset yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Lonjakan harga emas dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting. Salah satunya adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, yang membuat banyak investor beralih ke aset yang dianggap lebih stabil. Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS juga turut memengaruhi kenaikan harga emas. Prediksi bahwa bank sentral AS akan menurunkan suku bunga telah meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai alternatif investasi.
Dampak pada Pasar Saham Emas Domestik
Kenaikan harga emas global tidak hanya berdampak pada harga emas fisik, tetapi juga memberikan dorongan positif pada saham-saham emiten emas di dalam negeri. Di awal perdagangan Senin (26 Januari 2026), beberapa saham produsen emas mencatatkan kenaikan yang signifikan.
Berikut adalah daftar saham emiten emas yang mengalami kenaikan:
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Naik 15,79% menjadi Rp 7.150 per saham.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Melonjak 11,89% ke Rp 4.800 per saham.
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Mengalami kenaikan 8,8% ke Rp 1.360 per saham.
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): Naik 8,58% menjadi Rp 2.530 per saham.
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Menguat 6,98% ke Rp 2.070 per saham.
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB): Naik 6,45% menjadi Rp 660 per saham.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Menguat 6,06% ke Rp 3.500 per saham.
Pergerakan positif ini menunjukkan bahwa investor mulai melirik sektor pertambangan sebagai bentuk diversifikasi portofolio mereka.
Faktor-Faktor yang Mendorong Kenaikan Harga Emas
Ada beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas saat ini. Pertama, permintaan terhadap aset aman (safe haven) meningkat. Ketidakpastian politik dan ekonomi global membuat investor lebih memilih aset yang stabil, seperti emas.
Kedua, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS juga turut memengaruhi. Pelonggaran suku bunga cenderung melemahkan dolar AS, sehingga emas menjadi lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral juga menjadi salah satu pendorong. Beberapa bank sentral, termasuk China, terus meningkatkan cadangan emas mereka. Hal ini mencerminkan kepercayaan terhadap nilai jangka panjang emas sebagai alat penyimpanan nilai.
Arus masuk dana ke ETF emas juga turut berkontribusi. Dana yang diperdagangkan di bursa ini terus menarik investor karena kemudahan akses dan likuiditas tinggi.
Krisis Kepercayaan terhadap Aset AS?
Beberapa analis menyatakan bahwa kenaikan harga emas kali ini disebabkan oleh krisis kepercayaan terhadap pemerintahan AS dan aset-aset AS. Ketidakstabilan kebijakan AS membuat investor khawatir dan beralih ke aset yang lebih aman.
Kyle Rodda, analis pasar senior di Capital.com, mengatakan bahwa ketidakpastian terkait kebijakan AS menjadi faktor utama yang mendorong investor untuk beralih ke emas. Menurutnya, emas tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin menghindari risiko dari volatilitas pasar finansial.
Tren Harga Emas yang Menjanjikan
Sepanjang tahun 2025, harga emas telah naik sebesar 64%. Sementara itu, di sepanjang tahun 2026, harga emas telah mengalami kenaikan lebih dari 17%. Angka ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi aset yang menjanjikan, terlepas dari fluktuasi pasar.
Dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, emas diprediksi akan terus menjadi pilihan utama bagi investor. Kenaikan harga emas ini juga memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan tambang untuk meningkatkan kinerja dan daya tarik di pasar modal.***

>

Saat ini belum ada komentar