Puasa Tanggal Berapa? Proses Penetapan Awal Ramadan 1447 H: Integrasi Hisab dan Rukyatulhilal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Indonesia akan melaksanakan sidang isbat untuk menentukan awal bulan Ramadan 1447 H pada tahun 2026. Sidang ini menjadi momen penting dalam memastikan kepastian tanggal puasa bagi umat Islam di seluruh tanah air. Proses penetapan dilakukan dengan pendekatan yang menggabungkan hisab (perhitungan ilmiah) dan rukyatulhilal (pengamatan langsung bulan sabit).
Pendekatan Integrasi Hisab dan Rukyatulhilal
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan pendekatan integrasi antara hisab dan rukyatulhilal. Pendekatan ini bertujuan untuk merangkul berbagai metode penentuan awal bulan yang digunakan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia.
“Kementerian Agama menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyat. Ini penting untuk merangkul seluruh pendekatan yang berkembang di masyarakat, sekaligus menjaga persatuan umat,” ujarnya.
Pendekatan ini juga didasarkan pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Sidang Isbat. Regulasi ini mengatur metode penetapan awal bulan Hijriah melalui integrasi hisab dan rukyatulhilal, kriteria imkanur rukyat MABIMS, serta tata cara pelaksanaan sidang isbat dalam penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
Partisipasi Luas dari Berbagai Pihak
Sidang isbat tidak hanya dihadiri oleh pejabat pemerintah, tetapi juga melibatkan representasi luas dari masyarakat. Hal ini mencakup perwakilan ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, PERSIS, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Hidayatullah, dan Persatuan Umat Islam (PUI). Selain itu, para pakar falak dan astronomi dari lembaga seperti BMKG, BRIN, Planetarium, dan observatorium astronomi juga turut serta.
“Karena melibatkan representasi luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan dan kebangsaan yang kuat,” tegasnya.
Tahapan Pelaksanaan Sidang Isbat
Sidang isbat terdiri dari beberapa tahapan yang dirancang agar proses penetapan awal Ramadan dapat berjalan secara transparan dan akurat. Berikut adalah alur pelaksanaannya:
- Pemaparan posisi hilal: Data hisab mengenai posisi bulan sabit diperlihatkan kepada peserta sidang.
- Penerimaan laporan rukyat: Laporan hasil pengamatan langsung bulan sabit dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia diterima.
- Pelaksanaan sidang penetapan: Hasil data hisab dan laporan rukyat dibahas dalam sidang isbat.
- Pengumuman hasil melalui konferensi pers: Keputusan resmi ditetapkan dan diumumkan kepada publik.
Pemantauan Hilal di Seluruh Wilayah Indonesia
Pemantauan hilal dilakukan di berbagai lokasi di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Tim daerah dan relawan pengamat hilal turut serta dalam proses ini. Menurut Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, partisipasi masyarakat sangat luar biasa.
“Banyak yang tetap melaksanakan rukyat sebagai bagian dari syiar dan edukasi publik,” ujarnya.
Data hisab menunjukkan bahwa posisi hilal saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berada di kisaran -2° 24.71′ sampai 0° 58.08′ dengan sudut elongasi antara 0° 56.39′ sampai 1° 53.60′. Namun, secara perhitungan, posisi ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS.
Keputusan Akhir dan Imbauan kepada Masyarakat
Sidang isbat akan dihadiri oleh Menteri Agama, Wakil Menteri Agama, pimpinan Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Tim Hisab Rukyat Kemenag, perwakilan ormas Islam, serta duta besar negara sahabat. Keputusan yang diambil dalam sidang ini akan menjadi dasar penetapan awal Ramadan 1447 H.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menunggu keputusan resmi pemerintah. Sidang isbat adalah mekanisme resmi penetapan awal Ramadan di Indonesia,” pungkas Arsad.

>

Saat ini belum ada komentar