Penyebab Kenaikan Tajam IHSG di Awal Perdagangan, MSCI: Saham PANI dan BUMI Terkena ARB!
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada awal perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Hal ini terjadi setelah dua emiten besar, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), mengalami penurunan signifikan. Saham PANI turun hingga 14,89 persen, sedangkan saham BUMI turun sebesar 14,53 persen. Kedua saham ini sebelumnya diperkirakan akan masuk ke dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kondisi Pasar Saham Indonesia
Kemerosotan yang terjadi di pasar saham Indonesia menjadi tekanan terbaru bagi investor. Kebijakan MSCI untuk membekukan rebalancing indeks saham-saham Indonesia memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Keputusan ini diambil karena adanya kekhawatiran tentang konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PANI diperdagangkan di level Rp 9.575, sementara saham BUMI berada di level Rp 294. Keduanya mengalami tekanan serupa, dengan keduanya menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Ini menunjukkan bahwa pasar sedang menghadapi ketidakpastian besar akibat kebijakan MSCI.
Potensi Aliran Dana Asing
Sebelumnya, MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan atau rebalancing indeks pada 10 Februari 2026, dengan tanggal efektif 1 Maret 2026. Dalam riset bertanggal 9 Januari 2026, Samuel Sekuritas mencatat bahwa BUMI memiliki kapitalisasi pasar sekitar 10,3 miliar dollar AS, dengan free float 28,3 persen serta rata-rata likuiditas harian sekitar 36,7 juta dollar AS. Masuknya BUMI ke dalam indeks MSCI diperkirakan berpotensi menarik aliran dana asing di kisaran 180-300 juta dollar AS.
Sementara itu, PANI tercatat memiliki kapitalisasi pasar sekitar 13,3 miliar dollar AS dengan free float 15,9 persen. Meskipun tingkat likuiditasnya relatif lebih rendah dibandingkan BUMI, saham ini tetap dinilai sebagai kandidat kuat Global Standard, dengan potensi foreign inflow di kisaran yang sama.
Respons dari BEI
Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan akan segera menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya serta membekukan kenaikan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang dianggap terlalu terkonsentrasi.
Rekomendasi Analis
Analisis dari para ahli pasar modal menunjukkan bahwa investor disarankan untuk memilih saham defensif dalam situasi seperti ini. Beberapa analis menyarankan agar investor tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi besar, mengingat fluktuasi pasar yang tinggi.
Kondisi Rupiah dan Emas
Selain saham, kondisi Rupiah juga mengalami penurunan. Rupiah dibuka dengan pelemahan tipis, meski IHSG sempat anjlok lebih dari 10 persen. Harga emas Antam juga mengalami kenaikan tajam, mencerminkan ketidakstabilan ekonomi yang sedang dialami oleh Indonesia.
Perspektif Masa Depan
Meski situasi saat ini menunjukkan ketidakpastian, beberapa ahli optimis bahwa pasar saham Indonesia akan pulih seiring dengan stabilnya kondisi ekonomi nasional. Namun, langkah-langkah pemerintah dan otoritas pasar seperti BEI sangat penting dalam mengatasi masalah konsentrasi kepemilikan saham dan menjaga stabilitas pasar.

>

Saat ini belum ada komentar