Penyebab dan Gejala Super Flu, Influenza yang Memicu Kekhawatiran di Indonesia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Virus influenza A subclade K, yang dikenal sebagai “super flu”, kini menjadi perhatian utama di Indonesia. Varian ini menunjukkan sifat yang lebih agresif dibandingkan jenis flu biasa, dengan kemampuan menular yang lebih cepat dan gejala yang lebih berat. Meski jumlah kasus yang dilaporkan masih tergolong rendah, kekhawatiran terhadap potensi penyebaran dan risiko kematian tetap meningkat.
Apa Itu “Super Flu”?
Istilah “super flu” tidak memiliki definisi medis resmi, tetapi digunakan untuk menggambarkan varian virus influenza yang lebih ganas dan menimbulkan gejala parah. Secara ilmiah, varian ini dikenal sebagai influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K. Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) AS pada Agustus 2025 dan telah menyebar ke lebih dari 80 negara.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 62 kasus positif influenza A subclade K hingga akhir Desember 2025. Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat menjadi wilayah dengan angka tertinggi.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Dokter spesialis paru RS Persahabatan, Agus Dwi Susanto, menyebutkan bahwa gejala “super flu” jauh lebih berat dibandingkan flu musiman biasa. Beberapa gejala utama meliputi:
- Demam tinggi antara 39 hingga 41 derajat Celsius
- Nyeri otot yang hebat
- Kelelahan ekstrem
- Sakit kepala berat
- Batuk kering dan sakit tenggorokan
Agus menegaskan bahwa gejala ini lebih parah daripada flu biasa yang biasanya hanya menimbulkan demam ringan, hidung meler, dan batuk. Penderita disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti ini.
Risiko Kematian yang Lebih Tinggi
Meskipun secara umum flu bisa disembuhkan, Agus menjelaskan bahwa risiko kematian akibat subclade K lebih tinggi dibandingkan varian lainnya. Hal ini disebabkan oleh sifat virus yang lebih agresif dan mudah menyebar. Populasi rentan seperti lansia, anak-anak, dan orang dengan penyakit komorbid lebih berisiko mengalami komplikasi serius.
Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan terhadap “super flu” dapat dilakukan dengan beberapa langkah, termasuk:
- Vaksinasi influenza yang tersedia
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
- Menggunakan masker saat berada di tempat ramai
- Menghindari kontak dengan penderita flu
Menurut Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan PDPI, vaksin influenza yang tersedia masih memiliki efektivitas dalam mencegah penularan “super flu”, meskipun tidak sepenuhnya optimal. Ia menyarankan masyarakat untuk tetap menggunakan vaksin jika memungkinkan.
Tindakan Kemenkes dalam Menghadapi “Super Flu”
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menegaskan bahwa pemantauan terhadap “super flu” akan terus diperkuat. Pemantauan dilakukan melalui pelaporan penyakit yang menyerupai influenza dan infeksi pernapasan akut berat di berbagai fasilitas kesehatan.
Juru Bicara Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki Public Health Emergency Operation Center yang siap merespons perkembangan situasi. Jika ada indikasi lonjakan kasus, langkah penanggulangan akan segera diambil.
Meski jumlah kasus “super flu” di Indonesia masih tergolong rendah, kekhawatiran terhadap penyebarannya tetap tinggi. Masyarakat diminta untuk tetap waspada, mengenali gejala, dan melakukan pencegahan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Dengan pengawasan yang ketat dan kesadaran masyarakat, risiko penyebaran “super flu” dapat diminimalkan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar