Inovasi Digital Bantu UMKM Beradaptasi di Era Baru, Daging Kemasan Digital
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rab, 14 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat, pelaku usaha kini dituntut untuk terus berinovasi. Salah satu contoh sukses adalah Andri Mustafa, seorang pedagang kambing asal Desa Cermee, Kabupaten Bondowoso. Ia berhasil meningkatkan pendapatan dengan memanfaatkan teknologi digital dalam menjual daging kambing dalam bentuk kemasan.
Perjalanan Bisnis yang Dimulai dari Peternakan
Andri Mustafa memulai bisnisnya sejak tahun 2016 dengan fokus pada penggemukan dan perdagangan kambing. Awalnya, ia hanya menawarkan kambing hidup atau daging segar kepada pembeli yang datang langsung ke pasar. Namun, seiring berkembangnya era digital, ia mulai melihat peluang baru dalam pemasaran produk.
“Saya memulai usaha peternakan tahun 2016. Waktu itu hanya fokus fattening dan trading. Akhir tahun 2025, saya menjual daging kambing di kios Pasar Cermee,” ujarnya. Pada akhir 2025, ia memutuskan untuk mengubah strategi pemasaran dengan memperkenalkan daging kambing dalam kemasan per kilogram yang bisa dikirim langsung ke konsumen.
Adaptasi dengan Teknologi Digital
Perubahan ini dilakukan sebagai respons terhadap pergeseran perilaku belanja masyarakat. Menurut Andri, penjualan tidak lagi bergantung pada pembeli yang datang sendiri ke kios pasar, tetapi harus aktif menjangkau konsumen melalui layanan daring.
“Era digital membuat kita sebagai pengusaha harus mengikuti perkembangan zaman. Menjual produk tidak harus berdiam di kios pasar saja, tapi juga jemput bola,” tuturnya. Dengan cara ini, usaha Andri semakin lancar dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
Pilihan Produk yang Disesuaikan dengan Kebutuhan Konsumen
Untuk memenuhi kebutuhan berbagai kalangan, Andri menyediakan beberapa pilihan daging kambing dalam kemasan. Harga bervariasi sesuai jenis daging:
- Daging super: Rp140 ribu per kilogram
- Daging campur (mix): Rp120 ribu per kilogram
- Tulangan: Rp100 ribu per kilogram
Selain itu, tersedia juga paket kepala dan kaki kambing. Paket yang sudah bersih tanpa bulu dijual seharga Rp70 ribu, sedangkan yang masih belum dikerok bulunya dijual seharga Rp50 ribu.
Keuntungan Penjualan Digital Saat Banjir
Keputusan untuk beralih ke penjualan daging kemasan terbukti membawa dampak positif. Pada saat Pasar Cermee sempat dilanda banjir, kios daging milik Andri tidak mendapatkan pembeli. Namun, penjualan secara daring tetap berjalan.
“Waktu pasar Cermee kebanjiran, kios saya seharian nol pembeli. Tapi alhamdulillah, penjualan daging lewat online masih jalan,” ungkap Andri. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital memberikan stabilitas bisnis, bahkan di tengah situasi sulit.
Layanan Lengkap untuk Meningkatkan Kepercayaan Konsumen
Tidak hanya menjual daging kambing dalam kemasan, Andri juga mulai mengembangkan layanan daging kambing lengkap dengan bumbu serta paket aqiqah. Untuk menjaga kepercayaan konsumen, seluruh proses produksi dilakukan secara transparan dan terdokumentasi.
“Setiap proses kami dokumentasikan, mulai dari kambing masih hidup, penyembelihan, sampai siap saji. Itu bagian dari komitmen kami menjaga kepercayaan konsumen,” tambahnya.
Inspirasi bagi Pelaku UMKM Lain
Inovasi yang dilakukan Andri Mustafa menunjukkan bahwa pelaku UMKM di daerah mampu bertahan dan berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital. Ia menjadi inspirasi bagi para pedagang tradisional lainnya di Bondowoso untuk berani berinovasi dan adaptasi dengan perkembangan zaman.***





Saat ini belum ada komentar