Cuaca Ekstrem Awali Tahun 2026, Surabaya Hadapi Bencana Hidrometeorologi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rab, 7 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Cuaca ekstrem yang terjadi di awal tahun 2026 membuat Kota Surabaya menghadapi berbagai tantangan. Dalam sepekan pertama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mencatat adanya beberapa kejadian bencana hidrometeorologi seperti genangan air, pohon tumbang, hingga atap rumah yang roboh. Kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah setempat untuk lebih waspada terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu.
Pemantauan Cuaca Ekstrem Dilakukan Secara Intensif
Ketua Tim Operasional Kedaruratan BPBD Surabaya Arif Sunandar Pranoto Negoro menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi pada Januari hingga Februari 2026 telah memicu berbagai kejadian bencana. Menurutnya, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) memberikan laporan tentang potensi cuaca buruk yang dapat memengaruhi wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya.
“BMKG memang sudah memberi informasi tentang cuaca ekstrem yang akan terjadi. Ini memicu penanganan dari BPBD dalam menghadapi berbagai bentuk bencana hidrometeorologi,” ujar Arif.
Kejadian Terparah Terjadi Pada Minggu Pertama
Dalam seminggu pertama tahun 2026, kejadian paling parah terjadi pada hari Minggu, 4 Januari. Dalam sehari saja, BPBD menerima 24 laporan tentang pohon tumbang. Selain itu, ada dua kejadian atap rumah yang roboh.
Menurut Arif, atap yang roboh biasanya disebabkan oleh struktur kayu yang sudah lapuk. “Jika musim hujan, berat genteng akan meningkat karena air. Hal ini menyebabkan genteng mudah roboh,” jelasnya.
Wilayah Rawan Bencana di Surabaya Barat
Wilayah yang paling rentan terhadap bencana hidrometeorologi adalah Surabaya Barat. Titik-titik genangan air juga paling banyak terjadi di kawasan tersebut. Arif menunjuk Simo Kalangan sebagai salah satu area yang harus dipantau secara ketat.
“Di Simo Kalangan, saat hujan deras, kita harus siaga karena kemungkinan luapan sungai. Di sekitar Ciwo juga masih ada genangan air. Begitu pula di Wiyung,” katanya.
Teknologi Digunakan untuk Antisipasi Bencana
BPBD Surabaya juga melakukan persiapan dini dengan menggunakan aplikasi BMKG di Command Center 112. Dengan teknologi ini, petugas dapat memantau titik-titik yang akan diguyur hujan dan segera bertindak untuk mencegah genangan air yang semakin parah.
“Satu sampai dua jam sebelum awan Cumulonimbus masuk, mereka langsung memberi informasi kepada petugas yang bersiaga di posko terpadu,” tambah Arif.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Meski cuaca ekstrem hanya terjadi selama beberapa minggu, masyarakat diminta tetap waspada. Arif menegaskan bahwa cuaca yang tidak menentu bisa terjadi kapan saja, terutama saat musim hujan.
“Kita harap masyarakat bisa memperhatikan informasi cuaca dari BMKG dan BPBD agar bisa mengambil langkah pencegahan,” pesannya.
Dengan pengawasan intensif dan penggunaan teknologi, BPBD Surabaya berupaya meminimalisir dampak dari bencana hidrometeorologi. Namun, partisipasi aktif masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.***





Saat ini belum ada komentar