Wisata Kebun Raya Mangrove Surabaya di Akhir 2025: Potensi Besar, Pengelolaan Setengah Hati
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Ming, 21 Des 2025
- comment 0 komentar

Kebun Raya Mangrove Wonorejo Surabaya
Refleksi Momentum Liburan Akhir Tahun Terhambat Infrastruktur dan Pengelolaan yang Stagnan
DIAGRAMKOTA.COM – Menjelang libur akhir tahun 2025, wisata mangrove di Surabaya seharusnya menjadi primadona destinasi wisata keluarga. Dengan tiga lokasi utama yakni Kebun Raya Mangrove Surabaya Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah yang diresmikan sebagai Kebun Raya Mangrove Surabaya sejak Juli 2023.
Pengunjung untuk dapat masuk Kebun Raya Mangrove perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp15.000 untuk tiket orang dewasa dan gratis untuk anak-anak, tak lupa parkir sepeda motor Rp5000 dan mobil Rp10.000. Namun, jika ingin naik perahu untuk menyusuri hutan bakau sampai tujuan spot foto ekowisata mangrove harus membayar tiket lagi sebesar Rp25.000 untuk orang dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak, berlaku pulang-pergi (PP).
Kawasan seluas 34 hektar ini diklaim sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia. Namun, di balik klaim kebanggaan tersebut, realitas di lapangan justru menunjukkan pengelolaan yang jauh dari optimal.
Infrastruktur: Janji yang Belum Terwujud
Salah satu masalah krusial yang kerap dikeluhkan pengunjung adalah minimnya akses transportasi umum menuju kawasan wisata mangrove. Lokasi yang tersebar di Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah memaksa pengunjung untuk mengandalkan kendaraan pribadi atau transportasi online.
“Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil nge-maps khawatir kesasar,” ungkap Maria seorang pengunjung perempuan bersama keluarganya mengendarai sepeda motor matic ini.
Kebun Raya Mangrove yang baru saja diresmikan dua tahun lalu tersebut, tidak ada jalur angkutan umum yang memadai, membuat wisata yang seharusnya inklusif justru eksklusif bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan.
Penelitian yang dilakukan pada 2020 oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya mengidentifikasi beberapa faktor penghambat pengembangan ekowisata mangrove, di antaranya:
- Tidak adanya transportasi umum yang terjangkau menuju lokasi
- Kurangnya koordinasi antar instansi terkait fasilitas dan papan penunjuk lokasi.
- Pengembangan Lingkungan Sekitar yang Belum Optimal
Lima tahun kemudian, di penghujung 2025, mayoritas masalah ini masih belum terselesaikan. Strategi pengembangan yang disusun tahun 2025 pun terkesan hanya di atas kertas: konsep natural resources, perluasan jogging track, dan sentra wisata kuliner masih jauh dari harapan. Arya juga menyampaikan hal yang sama.
“Sentra kulinernya hanya tulisannya saja, tadi haus rencananya mau beli minum eh sepi. Hanya tinggal lapak dan meja kursinya saja. Next kalau kesini harus bawa bekal mas, itupun kalau kesini lagi jika seperti ini kondisinya,” jlentreh pengunjung yang bersama pasangannya ini sambil tersenyum kecut.
Fasilitas yang ada saat ini masih berkutat pada hal-hal mendasar seperti toilet umum, musala sederhana, dan area parkir seadanya.





