Kisruh Olimpiade SD/MI, Wakil Bupati Bojonegoro: Penyelenggara Dianggap Tidak Profesional

DIAGRAMKOTA.COM – Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, secara tegas menyatakan bahwa pihak penyelenggara olimpiade matematika tingkat SD/MI di Kabupaten Bojonegoro, Saryta Management, melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Peristiwa ini berujung pada pembatalan acara yang sebelumnya telah direncanakan.

Kepedulian Wabup Bojonegoro terhadap situasi ini didasarkan pada arahan dari Bupati Setyo Wahono. Ia mengunjungi lokasi kejadian untuk menemui pihak penyelenggara dan memastikan adanya penyelesaian masalah yang muncul. Kedatangan Nurul Azizah disambut oleh Kapolsek Bojonegoro, AKP Agus Elfauzi, serta anggota polisi yang bertugas di wilayah tersebut.

Kesalahan Penyelenggara Menjadi Fokus Utama

Menurut Nurul Azizah, penyelenggara tidak melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kantor Kemenag Kabupaten Bojonegoro. Kedua instansi ini memiliki peran penting dalam pembinaan pendidikan bagi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah.

“Apapun penyelenggara salah,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa penyelenggara harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan. “Kita akan minta tanggung jawab kepada penyelenggaran, besok hari Selasa, 9 Desember 2025 akan dikumpulkan,” ujarnya.

Dampak Terhadap Peserta dan Pembayaran

Dari data yang diperoleh, sekitar 1.300 lebih anak belum mengikuti olimpiade matematika. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang pengembalian biaya pendaftaran yang telah dibayarkan oleh peserta.

“Yang paling penting harus dibereskan, karena jelas-jelas ada yang belum dilaksanakan,” kata Nurul Azizah.

Menurut informasi dari panitia, jumlah peserta mencapai 2.000 orang yang dibagi menjadi tiga sesi. Namun, hingga saat ini, hanya sesi pertama yang telah dilaksanakan.

Pengakuan dari Sekolah Terkait

Sekolah SDN Kadipaten 1, Bojonegoro, merasa sangat kecewa terhadap penyelenggara olimpiade. Kepala Sekolah, Budiono, menyampaikan bahwa pihak penyelenggara tidak jujur dalam memberikan informasi.

“Pada waktu menawarkan kegiatan dua orang dari pihak penyelenggaran mengatakan sudah mendapat izin dari dinas pendidikan Bojonegoro. Kenyataannya belum tidak ada izin,” katanya.

Budiono juga menjelaskan bahwa sekitar 100 anak dari sekolahnya ikut dalam olimpiade tersebut. Namun, akibat kisruh yang terjadi, ia meminta anak-anaknya pulang dan fokus pada persiapan ulangan.

Langkah Penyelesaian yang Akan Dilakukan

Wabup Bojonegoro menegaskan bahwa semua pihak terkait akan dipanggil untuk membahas masalah ini. Ia menekankan bahwa Saryta Management harus bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang muncul.

“Nanti hari Selasa, saat kita kumpulkan, berapapun jumlah pendaftar yang sudah membayar harus dipertanggungjawabkan dan dikembalikan,” tukasnya.

Selain itu, Nurul Azizah juga menyarankan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Ia berharap lembaga penyelenggara dapat lebih profesional dan transparan dalam menggelar kegiatan besar seperti olimpiade.

Persiapan untuk Masa Depan

Meski situasi saat ini menimbulkan kekecewaan, Wabup Bojonegoro tetap optimistis bahwa kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga. Ia berharap ke depan, penyelenggaraan acara seperti ini akan lebih terstruktur dan melibatkan pihak-pihak terkait secara lebih baik.

“Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi di kabupaten Bojonegoro,” harapnya. ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *