Film “Agak Lain: Menyala Pantiku” Tampil Beda dengan Gaya Komedi yang Menghibur
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Sukses mendulang lebih dari 9 juta penonton, film “Agak Laen” kembali dengan kisah anyar. Bukan sekuel atau prekuel, “Agak Laen” betul-betul menyajikan cerita baru dalam tajuk “Menyala Pantiku!”. Kelucuan kuartet Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, dan Oki Rengga dalam “Agak Laen: Menyala Pantiku!” hadir di bioskop mulai Kamis 27 November 2025.
Film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” yang diproduksi Imajinari berkisah tentang Detektif Bene, Boris, Jegel, dan Oki yang berulang kali gagal menjalankan misi. Mereka mendapat kesempatan terakhir, yaitu menyamar dan menyusup ke sebuah panti jompo. Di panti jompo tersebut, mereka harus mencari buronan kasus pembunuhan anak wali kota. Apakah mereka berhasil menemukan pelaku?
Selain Bene, Boris, Jegel, dan Oki, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” juga menampilkan Tissa Biani, Ariyo Wahab, Gita Bhebhita, Chew Kin Wah, Jajang C Noer, Tika Panggabean, Jarwo Kwat, Egi Fedly, Priska Baru Segu, Boah Sartika, Ayushita, dan Surya Saputra.
Muhadkly Acho yang kembali menjabat sebagai sutradara sekaligus penulis mengungkapkan, terdapat perbedaan nuansa komedi dalam “Menyala Pantiku!”. Jika di film “Agak Laen” (2024) terdapat kegembiraan dan ketegangan dari latar pasar malam serta rumah hantu, di film berikutnya, gaya komedinya berubah.
“Pada ‘Agak Laen: Menyala Pantiku!’, kami melibatkan para lansia di banyak adegan. Akan tetapi, kami memikirkan dengan matang agar komedi di film ini tetap mudah dinikmati dan ditertawakan,” kata Acho.
Menurutnya, panti jompo sebagai latar utama dalam film ini memberikan perbedaan yang menonjol dan menampilkan sisi lain yang belum pernah muncul sebelumnya dalam perfilman Indonesia. Mulai dari komedi hingga kehangatan yang muncul dari dinamika karakternya.
Indra Jegel mengaku, baik di film pertama maupun kedua, dia tetap bermain di ranah komedi yang tetap seru untuk diikuti. Jegel membocorkan, ada petunjuk-petunjuk baru di film kedua ini. “Dengan komedi yang bertabrakan dengan situasi, penonton bakal tetap merasakan keseruan komedi ala Agak Laen,” ucap Jegel.
Sementara itu, Boris Bokir mengungkapkan, Acho telah dengan jeli memilih cerita-cerita dan inside joke yang tepat. Sehingga, meski bukan pendengar Podcast Agak Laen, kisah dan komedinya juga akan terasa universal bagi semua penonton.
“Acho adalah pendengar Podcast Agak Laen, jadi secara cerita dan komedi, memang dia yang menentukan sejak awal. Bagian mana saja dalam kehidupan kami berempat yang ikut dimasukkan ke dalam film. Tentunya, sebagai pemeran, saya mengikuti naskah yang sudah ditulis oleh Acho dan memainkannya dengan sepenuh hati untuk membuat penonton tertawa,” tutur Boris.
Terkesan
Salah satu yang spesial di film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” adalah istri Oki Rengga yang turut bermain. Di film ini, kata Oki, ada adegan yang sangat membuatnya terkesan hingga berbunga-bunga.
“Di film ini, aku bermain dengan istriku yang memang jadi pasangan suami istri dan sedang menunggu kelahiran anak kami. Nah, ada satu adegan yang membuatku berbunga-bunga selama dua minggu setelahnya dan membuat pandanganku berbeda saat menjalani syuting. Itu golden scene yang patut ditunggu di film ini,” ujar Oki.
Bene Dion, yang turut mensupervisi ide cerita dan naskah bersama Ernest Prakasa menyebutkan, di film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” ada perbaikan sisi komedi dan naskah. Namun, bukan berarti membatasi komedinya.
“Pastinya, dalam setiap proses, terdapat evaluasi agar karya menjadi lebih baik. Namun, evaluasi tidak langsung berarti mengubah komedi agar selalu terasa aman. Dalam film ‘Agak Laen: Menyala Pantiku!’ komedi-komedi yang berada di ambang batas tetap ditampilkan dengan pertimbangan yang matang, lucu, dan aman,” kata Bene.
Produser Ernest Prakasa mengatakan, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” menyajikan kisah yang segar. Dengan latar panti jompo, film ini menunjukkan bahwa genre komedi Indonesia semakin beragam.
“Rumah penanggungan sering dianggap sebagai tempat di mana lansia ditinggalkan oleh keluarganya. Dalam film ini, rumah penanggungan digambarkan sebagai tempat yang hangat dan penuh kebahagiaan. Semoga penonton juga merasakan kebahagiaan itu dan tertawa,” kata Ernest. ***





Saat ini belum ada komentar