Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » FORUM OPINI » SIAPA DALANG DI BALIK UPAYA KRIMINALISASI HASTO KRISTIYANTO?

SIAPA DALANG DI BALIK UPAYA KRIMINALISASI HASTO KRISTIYANTO?

  • account_circle Arie Khauripan
  • calendar_month Rab, 12 Jun 2024
  • comment 0 komentar

Oleh: Saiful Huda Ems.

Diagram Kota Surabaya – Mulai terlihat sangat terang benderang perburuan terhadap sosok-sosok kritis di negeri ini semakin gencar lagi dilakukan, kali ini korbannya bukan lagi akademisi melainkan politisi, yang partainya memenangkan PILEG selama tiga kali berturut-turut, yakni Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Mas Hasto, demikian kami biasa memanggilnya yang selama ini dikenal sebagai politisi yang terdepan menyuarakan keadilan dan memprotes keras terhadap berbagai kebijakan Pemerintahan Jokowi, dan memprotes paling keras terhadap ambisi Nepotisme Politik Jokowi yang lupa kacang pada kulitnya.

Dan sekarang menjadi target sasaran utama perburuan tokoh-tokoh politisi kritis di negeri ini. Maka tak heran beliau baru berstatus sebagai Saksi saja, sudah diperlakukan oleh KPK secara tidak wajar, tidak profesional dan tidak proporsional.

Ketika Mas Hasto dibiarkan sendirian di ruang pemeriksaan yang sangat dingin selama berjam-jam hingga ruang pemeriksaan di KPK menyerupai Kamp Konsentrasi NAZI, seorang penyidik dari KPK mendatangi staf Mas Hasto yang bernama Kusnadi, yang saat itu ia sedang duduk-duduk di ruang lobby KPK menunggu tim kuasa hukum Mas Hasto yang mau melakukan konferensi pers.

Penyidik KPK yang bernama RPB (inisial namanya) datang dengan menggunakan masker dan topi lalu menghampiri Kusnadi (staf Mas Hasto), dan membohongi Kusnadi yang seolah-olah ia sedang dipanggil oleh Mas Hasto di ruang pemeriksaan, dan mengambil handphone pribadi Mas Hasto bersama tas dan buku catatan penting serta rahasia PDIP.

Tak hanya itu, Kusnadipun diperiksa dan dibentak-bentak oleh penyidik KPK selama tiga jam, tanpa adanya surat panggilan pemeriksaan sebagai Saksi atau apapun. Ini jelas merupakan pelanggaran hukum ! Ini jelas menyalahi aturan perundang-undangan dan prosedur pemeriksaan KPK !.

Yang jadi pertanyaan kemudian, siapa orang atau aktor intrik di belakang penyidik KPK yang sewenang-wenang terhadap Mas Hasto dan Stafnya ini? Adakah suatu kelompok tertentu yang tengah bermain di KPK, hingga KPK sekarang nampak berubah menjadi alat politik kekuasaan untuk menekan pihak-pihak yang kritis pada Rezim Nepotis?

Sekedar info untuk difahami, bahwa dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 30 Tahun 2002, di Pasal 47 jelas dinyatakan, bahwa:

1. Dalam proses penyidikan, penyidik dapat melakukan penggeledahan dan penyitaan atas izin tertulis dari Dewan Pengawas.

2. Dewan Pengawas dapat memberikan izin tertulis atau menolak memberikan izin tertulis terhadap permintaan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak permintaan izin diajukan.

3. Penggeledahan dan penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib membuat berita acara penggeledahan dan penyitaan pada hari penggeledahan dan penyitaan yang paling sedikit memuat:

a. Nama, jenis, dan jumlah barang atau benda berharga lain yang digeledah dan disita;

b. Keterangan tempat, waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan penggeledahan dan penyitaan;

c. Keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang atau benda berharga lain tersebut;

d. Tanda tangan dan identitas penyidik yang melakukan penggeledahan dan penyitaan; dan

e. Tanda tangan dan identitas dari pemilik atau orang yang menguasai barang tersebut.

4. Salinan berita acara penggeledahan dan penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada tersangka atau keluarganya.

Dari Pasal 47 tersebut, kita bisa katakan bahwa apa yang terjadi pada pemeriksaan dan penyitaan barang pada Mas Hasto Kristiyanto dan Stafnya, bukanlah merupakan penyitaan melainkan perampasan. Mengapa bisa dikatakan perampasan dan bukan penyitaan? Ini karena:

1. Tidak pernah ada persetujuan dari Dewan Pengawas untuk penyitaan, apalagi perampasan. Jadi yang lebih tepat adalah “perampasan”.

2. Untuk menyita dari Saudara Kusnadi, penyidik KPK sampai harus turun memakai masker dan topi (menyamar), tidak ijin dengan Kuasa Hukumnya, lalu berbohong pada Saudara Kusnadi bahwa yang bersangkutan dipanggil Pak Hasto. Penyidik benar-benar melakukan kebohongan dengan mengundang Saudara Kusnadi masuk ke Gedung KPK Lt. 2 dengan alasan “dipanggil Pak Hasto Kristiyanto”.

Setelah di Lt 2, tubuhnya digeledah, barang-barang dirampas, termasuk ATM yang nilai dananya Rp. 700.000,- serta buku catatan milik DPP Partai yang berisi berbagai rahasia Partai. Bahkan Kusnadi “diperiksa” selama sekitar 3 jam tanpa adanya surat pemanggilan, sementara yang dipanggil dibiarkan menunggu sekitar 3 jam hingga kedinginan.

3. Persoalan penyuapan terhadap Wahyu Setiawan secara bersama-sama telah diputuskan oleh pengadilan dan dalam seluruh pemeriksaan tidak ada kaitannya dengan Mas Hasto Kristiyanto. Keputusan pengadilan ini sudah Inkrah.

4. Berdasarkan ketentuan UU KPK di atas, penyitaan hanya bisa dilakukan setelah ditetapkan tersangka. Itu pun barang yang disita harus berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan, bukan sembarang mengambil barang pribadi milik Saudara Kusnadi; buku catatan milik DPP PDI Perjuangan; dan HP milik Mas Hasto Kristiyanto.

Ketika Mas Hasto menyatakan protes atas perlakuan terhadap dirinya dan juga terhadap Kusnadi agar didampingi Penasehat Hukum, lalu ditolak dengan alasan sesuai SOP KPK. Padahal dalam undangan terhadap Mas Hasto, konsideran menimbang yang pertama adalah UU No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, bukan tentang SOP (standar operating procedure) KPK.

Apa yang dilakukan oleh penyidik KPK ini jelas merupakan tindakan Melawan Hukum, dan rasanya itu tidak mungkin dilakukan jika tidak ada alasan tendensius, misalnya diperintahkan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar.

Mas Hasto yang datang memenuhi panggilan pemeriksaan di KPK dalam kapasitasnya sebagai Saksi dengan baik-baik, namun malah diperlakukan seperti itu. Betapa memalukannya penegakan hukum yang demikian.

Di era Rezim Nepotisme Jokowi ini, citra penegakan hukum memang sangat memalukan. Pantas saja rakyat semakin pesimis dan mentertawakannya di berbagai media sosial, serta di warung-warung angkringan.

“Negoro kok koyok ngene tatane” (Negara kok begini tatanannya), “Negoro kok pek diuntal dewe” (Negara kok mau ditelan sendiri), “Wong dadi Presiden kok rumongso dadi Rojo” (Orang jadi Presiden kok merasa jadi Raja”, “Wong merikso perkoro kok semeno-meno” (Orang memeriksa perkara kok semena-mena),”

“Anak, Mantu, Adik Ipar nguwosoi negoro, menesuk cucu-cucune yo bakalan didadekno pejabat negoro” (Anak, Menantu, Adik Ipar menguasai negara, besok-besok cucu-cucunyapun akan dijadikan pejabat negara). “Wani piro, piro wae wani”(berani berapa, berapa saja berani). Semua ini merupakan gambaran pembicaraan orang-orang kecil di pinggiran terhadap keadaan demokrasi dan penegakan hukum di negeri ini.

Ada teman yang mengatakan, “Jaman kolonial ketika Bung Karno dituduh dengan pasal-pasal karetpun, biau boleh didampingi pengacara. Jaman orde baru yang otoriter Ibu Megawati didampingi pengacara, lalu di jaman orde nepotisme pengguna hukum kekuasaan ini, kemudian pengacara dilarang mendampingi, hanya karena diam-diam punya rencana merampas barang milik pihak lain”. Celaka…

“Lindungi dan selamatkan orang-orang kritis di negeri ini, pantau terus upaya kriminalisasi pada mereka, jangan sampai orang kritis seperti Mas Hasto Kristiyanto dan partainya dihancurkan karena takut PDIP menang sampai 100 kalinya.” (dk/SHE).

*Penulis Saiful Huda Ems (SHE) adalah seorang Lawyer dan juga Jurnalis.

  • Penulis: Arie Khauripan

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DJ Katty Butterfly Vs Pamela Duo Serigala? Siapa Paling Hot Di Club?

    DJ Katty Butterfly Vs Pamela Duo Serigala? Siapa Paling Hot Di Club?

    • calendar_month Kam, 1 Mei 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 329
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Dunia hiburan malam Indonesia selalu menghadirkan sosok-sosok yang memikat, dan dua nama yang seringkali dibandingkan dalam hal daya tarik dan performa di club adalah DJ Katty Butterfly dan Pamela Safitri dari Duo Serigala. Keduanya memiliki ciri khas yang kuat dan basis penggemar yang setia, sehingga memunculkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang lebih "hot" dan […]

  • Polsek Gubeng

    Polsek Gubeng Pastikan Penyelidikan Kasus Dugaan Penganiayaan Pengunjung Shelter Club Tetap Jalan

    • calendar_month Jum, 21 Jun 2024
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Diagramkota Surabaya – Polsek Gubeng memastikan proses penyelidikan tetap berjalan terhadap kasus penganiayaan yang dialami AS, pengunjung Shelter Club Surabaya. Kapolsek Gubeng Kompol Eko Sudarmanto mengatakan, saat ini pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Termasuk pemanggilan terhadap saksi-saksi. “Tetap kami tindaklanjuti, saat ini masih proses penyelidikan,” kata Kapolsek Eko, Kamis, 20 Juni 2024. Mantan kapolsek Karangpilang […]

  • 7 air terjun tersembunyi

    7 Air Terjun Tersembunyi Yang Bikin Takjub

    • calendar_month Sel, 25 Mar 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 178
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – 7 Air terjun tersembunyi yang bikin takjubTak hanya air terjun ikonik yang ramai dikunjungi, masih banyak air terjun lain yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan, menantang para petualang untuk mengungkap keindahannya. Berikut 7 air terjun tersembunyi yang akan membuat Anda takjub: 1. Air Terjun Sekumpul (Bali): Walaupun namanya mulai dikenal, Sekumpul masih terasa […]

  • Framitha Agustini Kembalikan Berkas Pendaftaran Calon Formatur Musda PAN Bandarlampung

    Framitha Agustini Kembalikan Berkas Pendaftaran Calon Formatur Musda PAN Bandarlampung

    • calendar_month Sen, 17 Mar 2025
    • account_circle Teguh Priyono
    • visibility 143
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Wakil Ketua PAN Bandar Lampung Framitha Agustini resmi mengembalikan berkas pendaftaran untuk calon formatur yang akan dipilih dalam Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Bandarlampung mendatang. Proses pengembalian berkas tersebut dilakukan melalui Liaison Officer (LO) Neni Triani pada Senin (17/3). Dalam kesempatan tersebut, Neni Triani menyampaikan pesan dari Framitha. “Alhamdulillah, […]

  • RPJMD 2025, Ketua Fraksi PKB Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Warga

    RPJMD 2025, Ketua Fraksi PKB Tegaskan Komitmen Kawal Aspirasi Warga

    • calendar_month Sen, 2 Jun 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 167
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kota Surabaya menyatakan kesiapannya untuk mengawal pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Melalui penunjukan Ais Shafiyah Asfar sebagai anggota Panitia Khusus (Pansus) RPJMD, Fraksi PKB ingin memastikan aspirasi masyarakat benar-benar terakomodasi dan tidak lagi berujung pada harapan palsu. “Fraksi PKB akan menugaskan Ais Shafiyah Asfar […]

  • Digeo Mauricio layak dijuluki Drogbinha! Rasa laparnya kembali bersama Persebaya Surabaya

    Digeo Mauricio layak dijuluki Drogbinha! Rasa laparnya kembali bersama Persebaya Surabaya

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 43
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM — Terbongkar alasan Diego Mauricio mendapat julukan Drogbinha yang haus gol di Persebaya Surabaya. Julukan itu bukan sekadar pemanis, melainkan lahir dari gaya main, karakter, dan dampak nyata sang striker di lini depan Green Force. Diego Mauricio akhirnya mendapat kesempatan starter untuk kali pertama musim ini bersama Persebaya Surabaya. Kepercayaan itu langsung dibayar dengan performa […]

expand_less