Ringkasan Berita:
- Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengajak seluruh pemerintah kota membangun kemajuan modern tanpa melupakan akar budaya lokal.
- Dalam Forum “Rembuk Kebudayaan Kota Kita” di Singkawang, Eri menegaskan modernitas bukan sekadar beton dan gedung tinggi, melainkan membalut karakter kota dengan jati diri budaya.
- Eri turut menyerukan solidaritas antarkota anggota APEKSI untuk saling berbagi keunggulan daerah serta bahu-membahu menghadapi bencana, termasuk ancaman karhutla.
DIAGRAMKOTA.COM — Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengajak seluruh jajaran pemerintah kota di tanah air untuk mengintegrasikan konsep kota modern tanpa mencabut akar kebudayaan daerah. Menurutnya, parameter kemajuan peradaban kota tidak semata-mata diukur dari masifnya pembangunan fisik serta infrastruktur, melainkan dari konsistensi menjaga identitas lokal serta melestarikan warisan leluhur.
Pernyataan strategis tersebut dilontarkan Wali Kota Eri saat menghadiri Forum “Rembuk Kebudayaan Kota Kita” yang diinisiasi oleh APEKSI di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (16/10/2026). Forum musyawarah antarkepala daerah ini menjadi panggung kolaboratif bagi pemerintah kota se-Indonesia untuk saling bertukar gagasan mengenai akselerasi pembangunan wilayah yang berakar kuat pada nilai-nilai kearifan budaya.
Eri menekankan secara lugas bahwa laju modernisasi perkotaan harus berjalan harmonis berdampingan dengan pelestarian tradisi lokal. Rancang bangun kota masa depan dinilai tidak boleh lagi terjebak pada orientasi sempit yang memuja beton semata tanpa menghadirkan jiwa kebudayaan sebagai karakter utama.
“Kami ingin sampaikan bahwa kami di setiap kota yang ada di APEKSI, modernisasi kami itu bukan hanya memperkuat identitas dari segi beton, aspal dan bangunan tinggi, tapi kami ingin membalut kota kami dengan budaya,” tegas Wali Kota Eri di hadapan para kepala daerah yang hadir.
Budaya sebagai Pondasi Karakter Kota dan Mesin Kesejahteraan Warga
Bagi Eri, spektrum kebudayaan memegang peranan krusial dalam membentuk watak kota sekaligus mengokohkan sendi-sendi persatuan bangsa. Atas dasar itulah, setiap pemerintah kota didorong untuk menempatkan unsur kebudayaan sebagai pilar fundamental dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, sehingga gerusan modernitas tidak sampai melunturkan identitas orisinal daerah.
“Kota yang hebat dan kota yang modern adalah kota yang bukan melupakan budayanya,” imbuh Eri.
Lebih lanjut, ia meyakini bahwa perlindungan warisan budaya menyimpan kekuatan dahsyat untuk mendorong percepatan pembangunan perkotaan yang berkarakter sekaligus mendongkrak taraf kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan menjaga rekam jejak sejarah dan nilai-nilai lokal menjadi garansi bahwa laju transformasi kota tidak akan mencabut jati dirinya.
“Ketika budaya ini menjadi satu kekuatan besar, maka insyaallah kota itu akan tumbuh tapi tidak akan pernah melupakan sejarahnya. Maka di situlah kota itu akan menjadi kota yang kuat. Dan saya yakin dengan budayalah kota ini akan semakin sejahtera. Karena budaya adalah jiwa utama dalam membangun karakter kota,” tuturnya.
Eri turut menggarisbawahi bahwa agenda merawat dan mempromosikan warisan tradisi bukan semata-mata menjadi beban kerja aparatur pemerintah, melainkan menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat agar kekayaan budaya tetap bernapas dalam keseharian warga.
Seruan Solidaritas Antardaerah Hadapi Tantangan Karhutla
Selain menyoroti pentingnya preservasi kebudayaan, Eri Cahyadi memanfaatkan momentum forum tersebut untuk menyerukan penguatan solidaritas dan kepekaan sosial antarkota anggota APEKSI. Modal sosial berupa kebersamaan antardaerah dipandang sebagai kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan krisis lingkungan, termasuk bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Hari ini ketika kita diuji Tuhan dengan Karhutla, maka seyogyanya seluruh wali kota yang ada di Indonesia bersatu padu menguatkan saudara-saudara kita. Kita masih teringat ketika ada bencana di Aceh bagaimana APEKSI ini menjadi satu kekuatan menguatkan sahabat-sahabat kita,” pesannya mengingatkan rekam jejak kebersamaan asosiasi.
Saling Adopsi Praktik Baik: Tolok Ukur Kesempurnaan Pemimpin Kota
Dalam pandangan Eri, setiap daerah otonom di Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan potensi spesifik yang sangat terbuka untuk dipelajari serta dikembangkan secara kolektif. Wadah asosiasi APEKSI diposisikan sebagai jembatan silang adopsi praktik-praktik baik (best practices) yang relevan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Kami tidak bisa berdiri sendiri, karena apa yang ada di kelebihan di Kota Singkawang pasti akan diambil oleh Aceh. Apa yang ada kelebihan di Jayapura pasti kami ambil di Surabaya. Apa yang ada di Surabaya akan ambil Salatiga,” jelas Eri menggambarkan jejaring transfer pengetahuan antarkota.
Menutup paparannya, Eri menegaskan bahwa marwah keberhasilan APEKSI tidak ditentukan oleh kompetisi semu tentang siapa kota yang paling unggul atau terbaik, melainkan seberapa besar kerelaan pemerintah kota untuk saling membagi kelebihan dan menguatkan kelemahan satu sama lain.
“Karena buat kami kesempurnaan wali kota-wali kota itu adalah ketika kota yang memiliki kelebihan, bisa memberikan kelebihan itu kepada kota-kota yang lainnya. Karena APEKSI hadir untuk kota bukan siapa yang terbaik di antara kita, tetapi bagaimana kita maju bersama dan bagaimana APEKSI bisa membawa kota-kota ini menjadi kota yang lebih baik untuk masyarakatnya masing-masing,” pungkasnya.

















