Dampak Psikologis dari Kecelakaan Kereta: Peringatan dari Ahli UNAIR Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur antara KA Argo Bromo dan KRL Lintas Cikarang menimbulkan trauma yang tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Para korban mengalami berbagai gejala stres akibat situasi krisis yang mereka alami. Hal ini disampaikan oleh seorang ahli psikologi dari Universitas Airlangga (UNAIR) yang menekankan pentingnya pengenalan tanda-tanda trauma pasca kecelakaan.
Tanda-Tanda Trauma yang Muncul
Ahli psikologi tersebut menjelaskan bahwa kecelakaan transportasi sering kali memicu respons stres alami pada manusia. Korban biasanya mengalami fase awal seperti disorientasi atau rasa bingung yang hebat. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana. Respons stres ini bisa muncul dalam bentuk gejala fisik seperti:
- Jantung berdebar kencang
- Gemetar dan keringat dingin
- Sesak napas
- Rasa cemas, marah, hingga panik yang meluap-luap
Gejala-gejala ini menjadi indikator bahwa seseorang sedang mengalami tekanan emosional yang cukup besar akibat pengalaman traumatis.
Risiko PTSD dan Faktor Pemicu
Ahli psikologi tersebut juga memberi peringatan tentang risiko Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) jika kejadian tersebut dianggap melebihi batas ketahanan diri korban. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami trauma jangka panjang, seperti:
- Riwayat gangguan mental atau pengalaman trauma sebelumnya
- Kurangnya dukungan dari lingkungan sosial (keluarga dan teman)
- Tekanan hidup lain, seperti masalah finansial atau beban pekerjaan/akademik
Jika seseorang terus dihantui mimpi buruk, ingatan traumatis yang berulang, atau selalu waspada berlebihan selama enam bulan pascakejadian, itu merupakan tanda bahaya. Ahli ini menyarankan agar korban segera mencari bantuan profesional untuk pemulihan yang lebih efektif.
Peran Pemerintah dalam Pemulihan
Selain tanggung jawab individu, ahli psikologi tersebut menekankan bahwa pemulihan korban bukan hanya tanggung jawab pribadi, melainkan juga pemerintah. Ia mendorong adanya langkah sistematis dari pihak terkait untuk menjamin kesejahteraan korban melalui beberapa upaya:
- Layanan Pendampingan: Penyediaan akses psikolog secara terstruktur untuk membantu korban menghadapi trauma.
- Kepastian Hukum: Investigasi cepat dan kejelasan bagi keluarga korban untuk memastikan keadilan.
- Perlindungan Hak: Menjamin keamanan status pekerjaan korban selama masa pemulihan agar proses penyembuhan tidak terhambat oleh beban ekonomi.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan korban dapat kembali pulih secara psikologis dan sosial.
Pentingnya Dukungan Sosial
Ahli psikologi ini juga menyoroti pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan. Tanpa adanya dukungan dari lingkungan sekitar, korban cenderung lebih sulit untuk bangkit dari trauma. Oleh karena itu, masyarakat dan pihak berwenang harus bersama-sama berupaya memberikan perlindungan dan dukungan yang diperlukan.***

>

Saat ini belum ada komentar