IHSG Alami Penurunan Signifikan, Ini Faktor yang Memicu Kekhawatiran Investor
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam selama perdagangan minggu ini. Pada hari Jumat, 24 April 2026, indeks saham utama Indonesia bergerak di zona merah sejak awal perdagangan. Data RTI Business menunjukkan bahwa IHSG turun sebesar 2,41% ke level 7.200,86 pada pukul 10.35 WIB. Selain itu, indeks sempat menyentuh level terendahnya yaitu 7.193,42.
Jika dilihat secara keseluruhan, IHSG telah melemah hingga 5,82% dalam sepekan terakhir. Hal ini juga disertai dengan aliran dana asing yang terus melakukan penjualan bersih atau net foreign sell senilai Rp 1,88 triliun.
Penyebab Pelemahan IHSG: Dari Rupiah hingga Konflik Global
Menurut Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, pergerakan IHSG saat ini masih dalam fase downtrend. Ia menjelaskan bahwa pelemahan indeks tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknis, tetapi juga oleh sentimen eksternal dan internal.
“Posisi pergerakannya masih berada di fase downtrend-nya dan berpeluang menutup gap-gap yang terjadi beberapa waktu lalu. Di sisi lain, kemarin nilai tukar rupiah terhadap USD sudah menyentuh Rp 17.300,” ujarnya.
Selain itu, kondisi nilai tukar rupiah yang melemah juga menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap pasar modal. Rupiah sempat melebar ke level Rp 17.310 di awal perdagangan Kamis (24/4).
Di sisi lain, konflik di kawasan Timur Tengah masih menjadi sentimen negatif bagi investor. Meskipun gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS)-Iran dan Israel-Lebanon sedang berlangsung, ketidakpastian situasi geopolitik tetap memengaruhi persepsi pasar.
Risiko Fiskal dan Perubahan Kebijakan BEI Memperparah Ketidakpastian
Herditya juga menyebut adanya risiko fiskal yang bisa memengaruhi outlook ekonomi Indonesia. Hal ini berpotensi memicu perubahan peringkat atau outlook terhadap perekonomian negara.
“Risiko fiskal tersebut dapat menyebabkan re-rating terhadap outlook Indonesia, diperkirakan hal ini menyebabkan outflow dari pasar domestik,” tambahnya.
Sementara itu, Reydi Octa, pengamat pasar modal, mengungkapkan bahwa kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Ketidakpastian arah suku bunga global menjadi salah satu faktor utama yang membuat investor lebih memilih risk off.
“Sentimen risk off masih dominan karena dipicu oleh ketidakpastian arah suku bunga global, penguatan dolar, serta tensi geopolitik yang membuat memicu outflow asing di IHSG,” jelas Reydi.
Perubahan Kebijakan Bursa Efek Indonesia Mengganggu Dinamika Pasar
Selain faktor eksternal, perubahan kebijakan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) juga turut memengaruhi kinerja pasar. Kebijakan baru yang mencakup free float dan high shareholding concentration (HSC) membuat sebagian investor melakukan rebalancing portofolio.
“Perubahan kebijakan ini disebut memicu turunnya daya tarik pasar terhadap saham-saham tertentu. Ini tercermin dari net sell asing yang konsisten, yang menandakan bahwa tekanan bukan sekadar teknikal, tapi ada rebalancing portofolio,” tutup Reydi.***

>

Saat ini belum ada komentar