Transportasi Umum di Surabaya Jadi Solusi Mahasiswa, Tapi Masih Butuh Peningkatan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Transportasi umum di Surabaya semakin menjadi pilihan utama bagi kalangan mahasiswa. Dengan biaya yang terjangkau dan akses yang mudah, layanan seperti Suroboyo Bus, WiraWiri, serta Trans Semanggi Suroboyo dinilai membantu dalam memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari. Namun, meski sudah banyak dimanfaatkan, masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki agar pengalaman menggunakan transportasi umum lebih nyaman.
Faktor Biaya dan Kepraktisan Jadi Alasan Utama
Yonisha, seorang mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, mengungkapkan bahwa alasan utama ia menggunakan transportasi umum adalah karena biaya yang jauh lebih murah dibandingkan layanan ojek online. Ia menjelaskan bahwa dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (KTM), biaya perjalanan hanya sebesar Rp2.500 untuk sekali jalan. Hal ini sangat membantu dalam mengurangi pengeluaran harian.
“Kalau naik ojek online bisa sampai sekitar Rp38.000, sedangkan pakai WiraWiri jauh lebih murah, cuma Rp2.500. Jadi sangat membantu untuk saya sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Selain itu, Yonisha juga menyebutkan bahwa pada beberapa rute tertentu, transportasi umum bisa lebih cepat dibandingkan layanan transportasi online. Namun, ia juga menyampaikan beberapa keluhan terkait fasilitas halte yang belum memadai.
Masalah Fasilitas Halte dan Kepadatan Armada
Salah satu masalah utama yang sering dialami pengguna transportasi umum adalah kondisi fasilitas halte yang kurang memadai. Beberapa titik pemberhentian tidak dilengkapi dengan tempat duduk, peneduh, atau penerangan yang cukup. Akibatnya, penumpang harus menunggu dalam kondisi panas atau hujan tanpa perlindungan.
“Beberapa halte cuma ada palang saja, jadi kalau nunggu harus kepanasan atau kehujanan. Bahkan kalau sore ke malam itu ada yang gelap karena minim penerangan,” katanya.
Selain itu, kondisi armada yang sering penuh pada jam sibuk juga menjadi kendala. Yonisha mengaku pernah menunggu hingga satu setengah jam karena kendaraan yang melintas tidak mampu menampung penumpang tambahan.
Pengalaman Serupa dari Pengguna Lain
Naura, mahasiswi UPN Veteran Jatim lainnya, juga mengalami pengalaman serupa. Awalnya ia hanya menggunakan transportasi umum untuk keperluan santai, tetapi kini menjadi bagian dari rutinitas harian. Ia mengakui bahwa akses menuju halte sering kali menjadi tantangan, terutama karena beberapa titik pemberhentian terhalang kendaraan yang parkir atau berhenti di dekatnya.
“Kadang halte tertutup kendaraan yang parkir atau berhenti di depannya, jadi bus tidak bisa minggir, penumpangnya akhirnya turun agak jauh dari halte,” jelas Naura.
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi bus yang sering penuh membuat waktu tunggu menjadi lebih lama. Bahkan, pernah ia harus beralih ke ojek online karena armada yang datang selalu penuh.
Harapan untuk Peningkatan Layanan
Para pengguna transportasi umum di Surabaya berharap pemerintah dan penyedia layanan dapat terus meningkatkan kualitas fasilitas dan operasional. Beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain penambahan jumlah armada, penggunaan bus dengan kapasitas lebih besar di rute padat, serta perbaikan fasilitas halte agar lebih nyaman digunakan.
Dengan peningkatan layanan yang optimal, transportasi umum di Surabaya diharapkan dapat menjadi solusi yang lebih efisien dan ramah bagi para pengguna, khususnya kalangan mahasiswa yang membutuhkan akses yang mudah dan terjangkau.***

>
>
Saat ini belum ada komentar