Kebijakan Moneter AS: The Fed Tetap Tahan Suku Bunga, Fokus pada Stabilitas Ekonomi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – The Federal Reserve (The Fed) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. Keputusan ini diambil setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari. Keputusan ini menunjukkan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) masih melihat perlu adanya evaluasi terhadap dampak dari tiga kali pemangkasan suku bunga sebelumnya.
Alasan Utama Penahanan Suku Bunga
Dalam pernyataannya, The Fed menyebutkan tiga faktor utama yang menjadi dasar keputusan penahanan suku bunga. Pertama, dampak dari pemangkasan suku bunga sebelumnya masih perlu waktu untuk dievaluasi. Kedua, inflasi yang relatif tinggi masih menjadi perhatian serius. Ketiga, pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda stabil dan solid.
“The Fed tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan,” ujar Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai rapat. “Kami akan berfokus pada variabel tujuan kami dan membiarkan data menjadi penuntun.”
Perubahan Deskripsi Pertumbuhan Ekonomi
Pernyataan resmi The Fed juga mencerminkan perubahan deskripsi terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi digambarkan sebagai “moderat”, namun kini dinyatakan sebagai “solid” setelah produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga 2025 melonjak hingga 4,4%.
“Pertumbuhan ekonomi AS sangat kuat tahun lalu dan memasuki 2026 dengan fondasi yang kuat,” jelas Powell. Namun, ia tetap memperhatikan risiko inflasi yang masih relatif tinggi.
Inflasi dan Tekanan Politik
Inflasi di AS saat ini berada di sekitar 3%, lebih dekat ke target 2% yang ditetapkan oleh The Fed. Meski demikian, beberapa pejabat FOMC khawatir bahwa kenaikan harga belum sepenuhnya mereda. Mereka menginginkan pemangkasan suku bunga dihentikan atau bahkan dihapus hingga ada bukti lebih kuat bahwa inflasi benar-benar turun.
Selain itu, tarif Trump menjadi faktor tambahan yang memengaruhi dinamika inflasi. Tarif tersebut diperkirakan akan memberikan tekanan jangka pendek, namun akan mereda pada akhir tahun ini. Powell menganggap tarif sebagai kenaikan harga satu kali (one-off), bukan sumber kenaikan harga yang berkelanjutan.
Perbedaan Pendapat di Dalam Komite
Meskipun mayoritas anggota komite mendukung keputusan menahan suku bunga, terdapat dua anggota yang berbeda pendapat. Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller memberikan suara menentang keputusan tersebut. Keduanya mendorong pemangkasan tambahan sebesar 25 bps. Ini merupakan dissent keempat berturut-turut bagi Miran.
Miran dan Waller diangkat oleh Presiden Donald Trump. Masa jabatan Miran berakhir pada Sabtu ini, sedangkan Waller sempat diwawancarai untuk posisi Ketua The Fed, meski peluangnya dinilai kecil.
Independensi Bank Sentral dalam Sorotan
Perbedaan pendapat di dalam komite menunjukkan ketegangan antara pihak yang ingin melonggarkan kebijakan dan yang ingin tetap ketat. Selain itu, The Fed juga dihadapkan pada tekanan politik yang semakin besar. Baru-baru ini, Departemen Kehakiman AS telah memanggil Powell melalui surat panggilan terkait renovasi kantor pusat The Fed di Washington, D.C.
Trump sebelumnya telah mengancam akan memecat Powell dan bahkan telah mengambil langkah untuk memberhentikan Gubernur Lisa Cook. Seluruh situasi ini menyoroti pertarungan mengenai independensi The Fed, yakni kemampuannya untuk beroperasi tanpa campur tangan politik.
Kapan Suku Bunga Turun?
Powell mengatakan bahwa setelah harga-harga turun, bank sentral akan mempertimbangkan untuk melonggarkan kebijakan. Namun, dia tidak memberi kepastian waktu. “Kami akan berfokus pada variabel tujuan kami dan membiarkan data menjadi penuntun,” imbuhnya.
Keputusan ini menunjukkan bahwa The Fed masih memprioritaskan stabilitas ekonomi dibandingkan aksi cepat dalam menurunkan suku bunga. Dengan pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang masih tinggi, The Fed akan terus memantau situasi secara cermat sebelum mengambil langkah berikutnya.***

>

Saat ini belum ada komentar