Strategi BCA untuk Meningkatkan Kepuasan Investor dan Stabilitas Pasar Modal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (shares buyback) dengan nilai maksimal sebesar Rp5 triliun. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung stabilitas pasar modal di Indonesia serta meningkatkan kepercayaan para pemegang saham.
Pembelian kembali saham ini akan dilaksanakan selama 12 bulan setelah disetujui oleh rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), yang direncanakan berlangsung pada 12 Maret 2026. Namun, pelaksanaannya dapat dipercepat jika diperlukan, asalkan tetap mematuhi ketentuan hukum yang berlaku.
BCA menyatakan bahwa jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 10 persen dari modal disetor perusahaan. Selain itu, tindakan ini juga tidak akan menyebabkan penurunan modal di bawah batas minimum yang ditetapkan oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 11/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
Dampak Finansial dan Kinerja Perusahaan
Menurut EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, pelaksanaan shares buyback ini tidak memiliki dampak material terhadap kinerja keuangan dan operasional BCA. Hal ini menunjukkan bahwa langkah tersebut dirancang untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Perusahaan mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa indikator keuangan. Pada akhir Desember 2025, BCA dan entitas anaknya membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun, naik 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, total kredit BCA meningkat 7,7 persen yoy menjadi Rp993 triliun. Pertumbuhan rata-rata kredit BCA mencapai 10,8 persen sepanjang tahun 2025. Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2 persen yoy mencapai Rp1.249 triliun, dengan dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1 persen yoy hingga Rp1.045 triliun.
Komitmen terhadap Good Corporate Governance
Hera menegaskan bahwa BCA senantiasa mematuhi prinsip good corporate governance (GCG) dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial.
Selain itu, BCA juga aktif dalam berbagai inisiatif sosial dan pengembangan layanan digital. Contohnya, BCA telah meluncurkan fitur-fitur baru yang memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi internasional dan manajemen keuangan pribadi.
Reaksi Pasar dan Prospek Masa Depan
Meskipun rencana buyback ini belum sepenuhnya dilaksanakan, banyak analis memprediksi bahwa langkah ini akan memberikan efek positif terhadap persepsi investor terhadap BCA. Dengan peningkatan kepercayaan, prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan dinilai lebih baik.
BCA juga memiliki rencana ambisius untuk tahun 2026, termasuk penyaluran kredit yang diproyeksikan tumbuh antara 8-10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan siap menghadapi tantangan pasar sambil tetap mempertahankan kualitas layanan dan kepuasan nasabah.
Kesimpulan
Langkah BCA dalam melakukan buyback saham merupakan strategi yang bertujuan untuk memperkuat posisi keuangan dan meningkatkan kepercayaan investor. Dengan pertumbuhan kinerja keuangan yang stabil dan komitmen terhadap GCG, BCA menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab sosial.

>

Saat ini belum ada komentar