Ahok: Peran Golf dalam Dunia Bisnis dan Korupsi di Pertamina
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dalam dunia bisnis, terutama di sektor perminyakan, olahraga golf sering kali menjadi alat penting untuk membangun hubungan dan negosiasi. Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI Jakarta yang pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina, mengungkapkan pengalaman pribadinya dalam menghadapi keharusan bermain golf selama masa jabatannya.
Pengalaman Ahok dalam Bermain Golf
Ahok mengakui bahwa ketika ia pertama kali menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina pada periode 2019-2024, ia tidak memiliki pengetahuan tentang olahraga golf. Namun, karena banyaknya pejabat asing dari perusahaan minyak besar seperti Chevron dan Exxon yang gemar bermain golf, ia merasa terpaksa untuk belajar cara bermain agar bisa menemani mereka.
”Saya terpaksa pergi sekolah golf supaya bisa menemani mereka,” ujarnya. Menurut Ahok, bermain golf bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga menjadi sarana pendekatan yang lebih murah dan sehat dibandingkan metode lain seperti budaya kelab malam.
Golf sebagai Alat Negosiasi
Ahok menyebut bahwa golf sering digunakan sebagai tempat negosiasi antara perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan. Ia mengatakan bahwa dalam beberapa kesempatan, ia menggunakan lapangan golf untuk membahas isu-isu bisnis, termasuk persetujuan saham atau kerja sama dengan perusahaan asing.
”Karena misalnya saya nego dengan Exxon, saya mau minta bagian saham. Itu ternyata negosiasi di lapangan golf itu jauh lebih murah daripada nightclub,” katanya. Bagi Ahok, golf adalah bentuk komunikasi yang lebih efektif dan tidak terkesan formal.
Kritik terhadap Praktik Golf dalam Lingkungan Perusahaan
Meski demikian, Ahok juga mengakui bahwa ada kekhawatiran bahwa bermain golf dapat menjadi ajang taruhan atau aktivitas yang tidak etis. Ia menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah perjudian, melainkan sekadar apresiasi antar pemain.
”Nah itu biasa, Pak. Dan, bahkan, kami di dalam lapangan golf itu suka isi-isian juga Pak. Apresiasi Pak, bukan judi,” tambahnya. Meski begitu, ia tetap menyadari bahwa praktik ini bisa menjadi bahan kritik jika tidak dikelola dengan baik.
Persidangan dan Dugaan Korupsi di Pertamina
Selama sidang korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina 2018-2023, Ahok memberikan kesaksian terkait penggunaan golf sebagai alat komunikasi dalam lingkungan bisnis. Jaksa menanyakan bagaimana tugas komisaris dalam mengawasi etika para pegawai, termasuk direksi yang sering bermain golf dengan pihak-pihak tertentu.
Ahok menjelaskan bahwa tugas komisaris adalah mengawasi etika, tetapi bermain golf merupakan ranah pribadi. Ia juga mengungkapkan bahwa selama masa jabatannya, ia pernah meminta jabatan Direktur Utama Pertamina kepada Presiden Jokowi untuk memperbaiki tata kelola perusahaan.
Kerugian Negara Akibat Kasus Korupsi
Dalam kasus ini, jaksa menyebut sembilan terdakwa telah melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan negara hingga Rp 285 triliun. Kerugian tersebut timbul akibat rekayasa dalam lelang impor BBM dan modus korupsi lainnya, seperti pengadaan sewa kapal dan terminal BBM.
Para terdakwa dijerat dengan berbagai pasal terkait korupsi, termasuk Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Kesimpulan
Pengalaman Ahok dalam bermain golf menunjukkan betapa pentingnya hubungan antarpelaku bisnis, terutama di lingkungan perusahaan multinasional. Namun, ia juga menyadari bahwa praktik ini bisa menjadi bahan kritik jika tidak dikelola secara transparan dan etis. Sidang korupsi Pertamina menunjukkan bahwa kebijakan dan pengawasan harus lebih ketat untuk mencegah adanya manipulasi dalam proses bisnis.

>

Saat ini belum ada komentar