Pergerakan Pasar Saham di Tengah Ketidakpastian Ekonomi dan Politik
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan pada hari Rabu, 14 Januari 2026, dengan investor memilih untuk menjual saham teknologi dan bank setelah rilis data inflasi yang menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik yang semakin meningkat.
Teknologi Menghimpit Indeks Pasar
Indeks Nasdaq Composite, yang berfokus pada saham perusahaan teknologi, turun lebih dari 1% sementara S&P 500 turun sekitar 0,5%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average hanya sedikit turun sebesar 0,1%, meskipun mengalami penurunan dari rekor-rekor tinggi yang sebelumnya dicapai. Penurunan ini dipengaruhi oleh kekhawatiran tentang kinerja perusahaan teknologi besar seperti Nvidia (NVDA), Broadcom (AVGO), dan Tesla (TSLA).
Nvidia, yang baru saja mendapatkan izin resmi untuk mengekspor chip H200 ke Tiongkok, mengalami penurunan karena laporan bahwa otoritas bea cukai Tiongkok membatasi impor chip tersebut. Meskipun pemerintah AS telah memberikan persetujuan untuk ekspor, pembatasan ini mengganggu rencana perusahaan untuk memasuki pasar AI yang diperkirakan bernilai $50 miliar.
Bank Memperlihatkan Kinerja yang Kuat Namun Turun
Meskipun hasil kuartalan Bank of America (BAC) dan Wells Fargo (WFC) menunjukkan kenaikan laba, saham mereka justru turun. Kekhawatiran terhadap kebijakan Fed dan usulan Trump untuk mengatur tarif kartu kredit menjadi faktor utama penurunan. Citigroup (C) juga mengalami penurunan sebesar 4%.
“Kesulitan utama adalah dalam bisnis investasi,” kata Art Hogan, strategis pasar dari B. Riley Wealth, mengenai hasil kuartalan bank besar. Ia berpendapat bahwa segmen ini bisa pulih dalam beberapa kuartal mendatang jika transaksi kembali dilakukan.
Inflasi Menjaga Harapan untuk Kenaikan Suku Bunga
Data inflasi yang dirilis menunjukkan tekanan harga tetap tinggi, memperkuat harapan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga saat pertemuan pekan depan. Namun, hal ini juga memicu harapan untuk dua pemotongan suku bunga tahun ini. Angka inflasi bulanan untuk barang dagangan naik 0,2% pada November, sementara inflasi tahunan mencapai 3%.
Selain itu, data PPI (Producer Price Index) menunjukkan kenaikan harga barang akhir yang dibeli oleh bisnis sebesar 0,9% pada November, yang merupakan kenaikan terbesar sejak Februari 2024. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih ada dan dapat memengaruhi keputusan kebijakan moneter.
Emas dan Perak Melonjak Akibat Ketegangan Geopolitik
Harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi baru pada hari Rabu, didorong oleh ketegangan geopolitik dan serangan terhadap Federal Reserve. Emas mencapai $4.650 per ons troy, sementara perak melewati $90 untuk pertama kalinya. Analysts dari UBS Global Wealth Management memprediksi bahwa emas bisa mencapai USD 5.000 per ons dalam beberapa bulan mendatang.
Tarif dan Kepedulian terhadap Kebebasan Fed
Mahkamah Agung AS tidak membuat keputusan terkait tantangan hukum terhadap tarif presiden Trump. Trump menggambarkan kasus ini sebagai isu keamanan nasional, dengan menyatakan bahwa jika putusan menguntungkan lawannya, “WE’RE SCREWED!”.
Persaingan di Pasar Finansial
Di tengah situasi ini, pasar finansial tetap dinamis. Bitcoin melonjak ke level tertinggi sejak November setelah undang-undang legislatif AS yang mengatur pasar kripto diperkenalkan. Selain itu, saham-saham kripto seperti MSTR dan COIN juga mengalami kenaikan signifikan.
Kesimpulan
Pergerakan pasar saham hari ini mencerminkan ketidakpastian ekonomi dan politik yang terus berlangsung. Investor tetap waspada terhadap data inflasi, kebijakan Fed, dan peristiwa geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Dengan kondisi ini, investor harus tetap siap menghadapi volatilitas yang tinggi dalam beberapa waktu ke depan.





Saat ini belum ada komentar