Meski Didemo Tukang Jagal Se-Surabaya, Dirut RPH Bersikukuh RPH Pegirian Pindah ke Osowilangun
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Sel, 13 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Aksi penolakan dan demonstrasi tukang jagal se-Surabaya tak mengubah sikap manajemen PT RPH Surabaya Perseroda.
Direktur Utama RPH Surabaya Fajar Arifianto Isnugroho menegaskan relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun tetap berjalan sesuai rencana.
Menurutnya, relokasi tersebut bukan sekadar kebijakan penataan kawasan, melainkan upaya meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan pemotongan hewan di Kota Surabaya.
Fajar menegaskan, secara fungsi RPH Osowilangun telah siap digunakan. Ia juga memastikan bahwa relokasi hanya berlaku untuk aktivitas pemotongan hewan, sementara Pasar Arimbi sebagai sentra perdagangan daging sapi terbesar di Surabaya tetap beroperasi di lokasi lama.
“Yang berpindah ke Osowilangun hanya RPH saja. Pasar Arimbi sebagai sentra daging terbaik di Surabaya tidak pindah tempat,” jelas Fajar pada Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, manajemen PT RPH Surabaya Perseroda memberikan waktu transisi kepada para jagal hingga akhir Idulfitri atau paling lambat akhir Maret 2026.
Selama masa tersebut, operasional pemotongan hewan akan dilakukan secara paralel di dua lokasi, yakni RPH Pegirian dan RPH Osowilangun.
“Kami memberi kesempatan kepada para jagal sampai akhir Idulfitri, terakhir akhir Maret. Setelah itu semua jagal berpindah ke Osowilangun. Jadi selama Januari, Februari, Maret, RPH memanfaatkan dua RPH sekaligus secara paralel. Tujuannya untuk mengecek apakah RPH yang ada sudah sesuai atau tidak,” paparnya.
Menurut Fajar, relokasi ini tidak semata-mata untuk penataan kawasan wisata religi Ampel, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas bagi para jagal.
Ia mengakui, kondisi RPH Pegirian saat ini sudah tidak lagi optimal untuk menunjang operasional pemotongan hewan secara maksimal.
“Fasilitas peralatan RPH Pegirian saat ini sudah kurang maksimal, sehingga perlu adanya pembaruan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, konsep dan pola kerja di RPH Osowilangun dibuat sama persis dengan RPH Pegirian, sehingga para jagal tidak perlu beradaptasi secara ekstrem. Perbedaan utama hanya terletak pada kualitas bangunan dan fasilitas yang lebih modern.
“Kami buat persis seperti Pegirian, tidak ada yang berubah. Namun tempatnya lebih representatif karena dibangun lebih modern dan instalasi pengolahan air limbahnya (IPAL) lebih maksimal,” jelas Fajar.
Ia menambahkan, usia RPH Pegirian yang sudah sangat tua menjadi salah satu pertimbangan utama relokasi. RPH tersebut telah beroperasi sejak 1927, sehingga banyak peralatan yang aus dan tidak lagi bekerja secara optimal.
“RPH Pegirian sudah sangat tua sejak 1927. Maka banyak alat yang aus, kurang maksimal, dan memang perlu penataan. Untuk itulah pemerintah kota memberikan perhatian,” pungkasnya. (sms)
- Penulis: Shinta ms




