Ambisi Sulawesi Tengah menuju PON 2032: Rapat di Palu, mimpi besar dari Bumi Tadulako
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM — Di sebuah ruang rapat sederhana di Kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tengah, Kota Palu, Jumat (26/12/2025), tersimpan ambisi besar yang melampaui batas daerah. Dipimpin langsung Ketua KONI Sulawesi Tengah, Muhammad Fathur Razaq, para pengurus olahraga provinsi itu berkumpul dengan satu tujuan: membuka jalan agar Sulawesi Tengah masuk dalam peta tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2032.
Rapat koordinasi tersebut menandai pembentukan Tim Kerja Bidik PON, sebuah kelompok yang tidak sekadar mengurusi teknis internal organisasi. Tim ini dipersiapkan sebagai ujung tombak diplomasi olahraga daerah—ditugaskan menyusun peta jalan, menghitung kesiapan infrastruktur, hingga mempresentasikan visi Sulawesi Tengah secara langsung di hadapan Gubernur.
Bagi Fathur Razaq, langkah awal ini krusial. Ia menilai bahwa pencalonan tuan rumah PON tidak mungkin berjalan tanpa dukungan politik dan kebijakan pemerintah daerah. “Arahan gubernur akan menjadi fondasi untuk menyatukan langkah lintas sektor,” ujarnya dalam rapat tersebut.
Namun, mimpi Sulawesi Tengah tidak berdiri sendiri. Dalam paparannya, Fathur mengungkapkan rencana membangun komunikasi dengan provinsi-provinsi tetangga. Opsi penyelenggaraan bersama (co-host) menjadi strategi yang dipertimbangkan serius—sebuah pendekatan yang semakin lazim di tengah besarnya tuntutan infrastruktur dan pembiayaan ajang olahraga nasional.
Kolaborasi antardaerah, menurut para peserta rapat, bukan hanya soal berbagi venue, tetapi juga tentang memperkuat daya tawar Sulawesi Tengah di tingkat nasional. Aksesibilitas, kesiapan sarana olahraga, hingga dukungan sumber daya manusia menjadi variabel penting yang dibahas secara terbuka. ***
Di balik wacana besar itu, rapat juga menyentuh hal-hal mendasar: pembinaan cabang olahraga unggulan, peningkatan prestasi atlet lokal, dan kondisi fasilitas olahraga yang harus dibenahi sejak sekarang. Konsensus mengemuka—jika PON 2032 ingin diraih, persiapan harus dimulai jauh sebelum hitung mundur resmi dimulai.
“PON bukan hanya soal menjadi tuan rumah,” kata Fathur Razaq. “Ini tentang kebangkitan prestasi olahraga dan dampak jangka panjang bagi Sulawesi Tengah.”
Di provinsi yang masih menyembuhkan diri dari bencana alam beberapa tahun lalu, gagasan membawa PON ke Bumi Tadulako memiliki makna simbolik. Ia mencerminkan keinginan untuk bangkit, dikenal, dan diperhitungkan. Pembentukan Tim Kerja Bidik PON mungkin baru langkah kecil, tetapi bagi Sulawesi Tengah, inilah awal dari perjalanan panjang menuju panggung olahraga terbesar di Indonesia.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar