118 Puisi Peduli Bencana Sumatera Lolos Kurasi, Buku Siap Rilis
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 18 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Panitia Puisi Peduli Bencana Sumatera 2025 secara resmi mengumumkan 118 puisi yang terpilih akan dimasukkan dalam buku Tanda Cinta untuk Korban Bencana Sumatera. Pengumuman ini diumumkan pada 16 Desember 2025, menjadi langkah awal dalam penerbitan karya-karya yang lahir dari rasa duka akibat banjir dan tanah longsor besar yang melanda berbagai daerah di Sumatera akhir tahun ini.
Buku ini bukan hanya kumpulan peristiwa bencana, tetapi juga dokumen emosional dan etis. Setiap puisi hadir sebagai bukti kolektif terhadap tragedi yang menyebabkan ratusan korban jiwa dan memaksa hampir satu juta orang untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Mustafa Ismail, salah satu pelaku kegiatan sekaligus jurnalis dan penyair Aceh, menegaskan:
Kumpulan puisi tersebut bukan hanya ekspresi empati, tetapi bentuk kesaksian bersama mengenai bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa berbagai daerah di Sumatera pada akhir 2025.
Karya-karya ini berasal dari berbagai suara yang datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Turki. Hal ini menunjukkan bahwa rasa duka terhadap Sumatera tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga mampu menciptakan resonansi di tingkat global. Dedy Tri Riyadi, yang terlibat dalam kegiatan ini, menekankan bahwa bencana tidak bisa dilihat secara netral:
Bencana merupakan titik kumpul antara hujan yang sangat deras, kerusakan lingkungan, kelalaian manusia, serta ketidakseimbangan kekuasaan.
Setiap puisi menyajikan pendekatan yang reflektif dan kritis. Sebagai contoh, Arus Deras karya Ahmadun Yosi Herfanda menggambarkan banjir bandang sebagai “tentara Tuhan” yang mengingatkan manusia akan keserakahannya. Sementara itu, Persamaan Liar Variabel karya Rintis Mulya menegaskan bahwa bencana muncul dari kerusakan sistem ekologis yang dilakukan manusia secara bersama-sama.
Kritik terhadap ketidaktahuan juga muncul dalam karya Ahmad Md Tahir dari Singapura dan Fakhrunnas MA Jabbar, yang menyoroti bagaimana masyarakat dan pihak berwenang sering mengabaikan kesadaran, sementara korban terus bertambah. Puisi Fikar W. Eda, Sobekan Perca Tanah Gayo, menegaskan aspek budaya bencana, menyebabkan jembatan dan jalan tenggelam serta menghilangkan sejarah dan identitas komunitas.
Selain kritik dan refleksi, buku ini juga menyajikan sisi spiritual dan pribadi. Puisi seperti November Rain karya Nanang R. Supriyatin dan Doa untuk Kampung Halaman karya Riri Satria menggambarkan rasa kehilangan keluarga dan kampung, di mana doa berperan sebagai jembatan antara yang selamat dan yang hilang. Mustafa Ismail menyimpulkan:
Simbol cinta terhadap para korban bencana Sumatera bisa dianggap sebagai dokumen emosional dan etis dari tragedi lingkungan.
Buku ini direncanakan akan diterbitkan pada Desember 2025 oleh Ruang Merdeka Inspira dan akan diumumkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin pada malam Jumat, 19 Desember 2025, dalam acara Panggung Puisi Bencana Sumatera. Acara ini akan dilengkapi dengan pembacaan puisi, kesaksian, dan penggalangan dana, sebagai ruang peringatan sekaligus penghormatan terhadap para korban bencana.
Rintis Mulya, koordinator acara, menambahkan, “Beberapa penyair telah menyatakan keinginan mereka untuk membacakan puisi dalam acara ini, memastikan suara para korban tetap terdengar di tengah dunia yang sering kali mengubah bencana menjadi angka dan data.” ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar