Beda Nasib Persib Bandung dan Persija Jakarta! Persebaya Surabaya Hadapi Tantangan Berat di Super League 2025/2026
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 12 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Persebaya Surabaya, salah satu klub sepak bola ternama di Indonesia, sedang menghadapi situasi yang sangat menantang dalam kompetisi Super League 2025/2026. Berbeda dengan Persib Bandung dan Persija Jakarta yang tampil stabil dengan struktur organisasi yang jelas, Persebaya justru terlihat kewalahan menghadapi berbagai tantangan baik secara teknis maupun administratif.
Kondisi Internal yang Mengkhawatirkan
Saat ini, Persebaya Surabaya sedang menjalani laga pekan ke-15 melawan Borneo FC. Namun, kondisi tim tidak dalam keadaan ideal. Dua pemain penting, Francisco Rivera dan Bruno Moreira, harus absen karena hukuman larangan bermain. Rivera menerima kartu merah saat melawan Persik Kediri pada pekan ke-13 dan sekarang menjalani dua pertandingan larangan. Sementara itu, Moreira absen akibat akumulasi empat kartu kuning.
Kehilangan kedua pemain tersebut membuat lini tengah Persebaya Surabaya kehilangan kreator serangan yang selama ini menjadi motor permainan. Hal ini juga berdampak pada lini depan yang kehilangan sosok penyelesai akhir yang bisa diandalkan.
Ketidakstabilan Struktural dan Kekhawatiran Suporter
Di tengah tekanan teknis, masalah struktural semakin mencuat dan memicu kegelisahan suporter. Bonek, pendukung setia Persebaya, menyampaikan kekecewaan mereka terhadap ketidakhadiran pelatih kepala dan manajer resmi. Hingga Jumat (12/12/2025), Persebaya masih belum memiliki figur penting dalam struktur organisasi klub.
“Begitu mengkhawatirkannya kondisi Persebaya Surabaya saat ini karena tidak memiliki sosok pada jabatan penting dalam sebuah klub profesional,” tulis @onlinepersebaya. Kekosongan ini membuat arah klub tidak jelas dan keputusan teknis sering berubah-ubah.
Uston Nawawi, yang sebelumnya diumumkan sebagai Direktur Teknik, kini memegang peran ganda sebagai asisten pelatih sekaligus caretaker. Hal ini menunjukkan bahwa klub sedang berjuang keras untuk menjaga stabilitas meski dalam kondisi yang kurang ideal.
Kekurangan Pemain Inti dan Strategi yang Terbatas
Caretaker pelatih Uston Nawawi dipaksa merombak strategi hanya tiga hari sebelum pertandingan penting berlangsung. Minimnya opsi pemain inti membuat improvisasi yang ia siapkan tidak bisa optimal seperti ketika tim lengkap. Hal ini memperkuat kesan bahwa Persebaya Surabaya sedang berjuang untuk menjaga performa di tengah krisis internal.
Kritik dari Penggemar dan Harapan Masa Depan
Bonek juga menyoroti absennya figur-figur penting dalam klub. Mereka berharap agar Persebaya dapat segera menemukan solusi untuk mengatasi krisis ini. “Kami ingin melihat Persebaya kembali stabil dan bersaing dengan klub lain,” ujar salah satu penggemar.
Selain itu, ada harapan besar dari para penggemar bahwa Persebaya akan segera menemukan pelatih kepala dan manajer resmi untuk memimpin klub dalam jalannya kompetisi. Tanpa kejelasan struktur organisasi, sulit bagi klub untuk berkembang dan menunjukkan performa yang maksimal.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Persebaya Surabaya membutuhkan kejelasan dan kestabilan untuk bisa kembali bersaing di kompetisi elite sepak bola Indonesia. Kehadiran pelatih dan manajer yang tepat akan menjadi langkah awal untuk mengembalikan kepercayaan suporter dan meningkatkan performa tim. ***

>

Saat ini belum ada komentar