‘Bento’ Sang Ketua Parpol Jawa Timur: Hadir di Gedung, Absen di Adab
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 34 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Saksi bisu Bento: Hadir di gedung, absen di adab (dk)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seni Menghindar di Ruang Sendiri Catatan kecil tentang tuan Bento yang lupa cara menemui tamu yang telah meluangkan waktu
Ada perbedaan mendasar yang sering diabaikan oleh mereka yang terbiasa duduk di kursi kekuasaan: meluangkan waktu dan menunggu ada waktu luang adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Yang pertama adalah bentuk penghormatan. Yang kedua adalah kebiasaan orang sibuk yang lupa bahwa orang lain pun punya kesibukan.
Suatu hari, sebuah undangan datang melalui ‘orangnya’. Waktu ditentukan sang Ketua salah satu partai politik provinsi Jawa Timur. Parpol yang minim kader menurut sang wartawan. Sebut saja namanya ‘Bento’.Β Tapi cukup sekali, jangan sebut namanya tiga kali Bento, Bento, Bento β asyik.
Tempat pun ia yang memilih. Maka datanglah seorang wartawan β bukan karena kebetulan lewat, bukan karena ada waktu senggang β melainkan karena sengaja meluangkan waktu, mengosongkan jadwal untuk memenuhi undangan yang ia buat sendiri.
Yang terjadi kemudian, cukup untuk dijadikan bahan renungan panjang.
Bento ada. Di sana. Di gedung yang sama. Tapi ia tidak menemui tamunya. Deretan jajarannya yang melangkah mewakili β tersenyum, menjelaskan sesuatu yang tidak perlu dijelaskan, karena ketidakhadiran sang ketua untuk menemui sudah berbicara jauh lebih keras dari kata-kata apapun.
Ketika Karakter Berbicara Lebih Keras dari Janji
Psikolog sosial Robert Cialdini, dalam karyanya Influence, menyebut bahwa konsistensi antara ucapan dan tindakan adalah penanda utama integritas seseorang. Ketika seseorang gagal menepati hal-hal kecil yang ia tentukan sendiri, publik berhak mempertanyakan hal-hal besar yang ia janjikan.
Senada dengan itu, psikolog klinis Dr. Tara Bennett-Goleman pernah menulis bahwa cara seseorang memperlakukan orang yang “tidak menguntungkannya secara langsung” adalah cermin karakter yang paling jujur. Bukan bagaimana ia bersikap di hadapan kamera. Bukan bagaimana ia berpidato di atas panggung. Tapi bagaimana ia bersikap ketika tidak ada yang menghitung.
Di panggung politik nasional, almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenang bukan hanya karena kebijakan-kebijakannya, tapi karena ia dikenal menyempatkan diri untuk orang-orang kecil β bahkan di tengah jadwal kepresidenan yang padat. Bagi Gus Dur, menemui orang adalah bentuk menghormati manusia, bukan sekadar agenda protokoler.
Di level internasional, Nelson Mandela pun terkenal dengan hal serupa. Staf-stafnya bersaksi bahwa Mandela selalu mengingat nama, selalu menyapa duluan, selalu hadir ketika ia berjanji hadir. Bukan karena ia tidak sibuk β tapi karena baginya, kehadiran adalah bentuk paling sederhana dari kepemimpinan.
Pilihan Kecil yang Bercerita Besar
Dalam politik, justru pilihan-pilihan kecil inilah yang sering luput dari sorotan. Padahal di sanalah karakter sesungguhnya berdiam β bukan di atas panggung kampanye, bukan di balik spanduk bergambar wajah setengah tersenyum, tapi di momen-momen biasa ketika tidak ada kamera besar yang menyorot.
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi pernah mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap politisi dibangun dari akumulasi gestur kecil, bukan semata dari program besar. Rakyat, katanya, lebih peka dari yang dikira β mereka membaca sinyal-sinyal kecil itu, meski tidak selalu mengatakannya.
Dan sinyal Bento hari itu cukup jelas terbaca.
Seorang pemimpin yang kelak akan meminta kepercayaan publik Jawa Timur β yang namanya akan tercetak di surat suara, yang bicaranya akan dikutip sebagai arah kebijakan β ternyata tidak cukup berkenan menemui satu tamu yang waktunya ia tentukan sendiri, tempatnya ia pilih sendiri.
Sang wartawan pulang dengan senyuman β cukup tahu. Tanpa wawancara, tanpa bertemu. Tapi tidak sepenuhnya tanpa hasil β ia pulang membawa sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kutipan: sebuah catatan karakter, yang ditulis bukan oleh penanya, melainkan oleh Bento sang ketua itu sendiri, dengan cara paling jujur yang mungkin β ketidakhadirannya untuk menemui.
Konon, cara terkecil untuk mengenal seseorang adalah melihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Hari itu, Bento sudah menjawab pertanyaan itu β tanpa diminta, tanpa sadar, dan sayangnya, tanpa bisa ditarik kembali.
Di bilik suara, rakyat tidak hanya memilih program. Mereka memilih manusia. Dan manusia yang tidak mampu menghormati satu tamu yang ia undang sendiri β di waktu yang ia tentukan, di tempat yang ia pilih β sedang memberitahu kita, jauh sebelum kampanye dimulai, tentang seperti apa ia akan memperlakukan jutaan orang yang kelak menitipkan suaranya.
Jadi teringat Ungkapan “ikan busuk dari kepalanya” sering dikutip olehΒ Presiden Prabowo Subianto dalam pidato-pidatonya (seperti pada pelantikan 2024).
*Oleh: Agung
β Catatan lapangan, suatu siang di Surabaya

>
>