Kondisi Pasar Keuangan Global: Kripto Tergeser, Emas Menguat
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pasar keuangan global kembali mengalami volatilitas yang signifikan, dengan aset kripto mengalami penurunan tajam sementara harga emas kembali melonjak. Peristiwa ini menjadi perhatian utama bagi investor dan para analis pasar.
Penurunan Kapitalisasi Aset Kripto
Dalam satu hari, kapitalisasi pasar aset kripto tergerus sebesar Rp 2.187 triliun. Angka ini mencerminkan tekanan besar yang dialami oleh sejumlah aset digital seperti Bitcoin. Pada Kamis (5/2/2026), harga Bitcoin turun menjadi 71.000 dolar AS, atau turun sekitar 7 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Ini adalah penurunan terbesar sejak Oktober 2024, ketika harga Bitcoin sempat berada di level yang lebih rendah.
Pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menjadi salah satu faktor pemicu penurunan nilai aset kripto. Dalam sidang dengar pendapat di komite keuangan DPR AS, Bessent menyatakan bahwa Departemen Keuangan AS tidak memiliki wewenang untuk membeli aset kripto. Hal ini menunjukkan sikap resmi pemerintah AS yang tidak mendukung industri aset kripto secara langsung.
Selain itu, pernyataan dari Michael Burry, manajer investasi senior AS, juga memberikan dampak negatif pada pasar. Ia menyebut Bitcoin sebagai sarana spekulasi belaka, yang tidak bisa dianggap sebagai aset stabil seperti emas atau logam mulia lainnya. Burry, yang dikenal karena prediksi kejatuhan pasar keuangan global pada 2008, memperingatkan potensi risiko yang tersembunyi dalam industri kripto.
Lonjakan Harga Emas
Di tengah ketidakpastian pasar kripto, harga emas kembali melonjak. Setelah turun pada akhir pekan lalu, harga emas naik kembali setelah menembus 5.000 dolar AS per troy ounce pada akhir Januari 2026. Pada perdagangan 2 Februari 2026, harga emas ditutup pada 4.662 dolar AS per troy ounce, kemudian meningkat menjadi 4.903 dolar AS per troy ounce sehari setelahnya.
Potensi kenaikan harga emas diperkirakan akan terus berlanjut. Dalam bursa berjangka, harga emas diproyeksikan kembali melebihi 5.000 dolar AS per troy ounce untuk pengiriman April 2026. Prediksi ini didasarkan pada beberapa faktor, termasuk meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Faktor Pemicu Pembelian Emas
Konflik geopolitik menjadi salah satu pemicu utama investor dan manajer investasi untuk beralih dari aset giral ke aset kartal seperti emas. Selain itu, ancaman krisis ekonomi global juga membuat banyak pihak memilih aset yang lebih stabil.
Bank sentral berbagai negara juga ikut memperkuat tren ini dengan menjaga cadangan emas sambil mengurangi cadangan valuta asing. Goldman Sachs bahkan memproyeksikan harga emas bisa mencapai 5.400 dolar AS per troy ounce. Sementara JPMorgan melihat potensi harga emas mencapai 6.300 dolar AS per troy ounce pada akhir 2026.
Antisipasi Penurunan Suku Bunga Acuan
Para analis juga mencatat bahwa pembelian emas dan logam mulia akan terus berlangsung sebagai antisipasi penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral AS. Presiden Donald Trump telah lama mendesak Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga acuan. Pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Dewan Gubernur The Fed menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
Warsh, yang akan menggantikan Jerome Powell, dianggap sebagai tokoh yang lebih keras dalam kebijakan moneter. JPMorgan memprediksi bahwa era Warsh akan membawa perubahan signifikan dalam likuiditas pasar, dengan harga obligasi dan dolar AS yang cenderung fluktuatif.
Perkembangan pasar keuangan global saat ini menunjukkan pergeseran arah investasi dari aset kripto ke aset yang lebih stabil seperti emas. Hal ini mencerminkan kekhawatiran terhadap volatilitas pasar dan ketidakpastian politik serta ekonomi. Investor dan analis terus memantau perkembangan terbaru untuk mengambil keputusan yang tepat dalam mengelola portofolio mereka.

>

Saat ini belum ada komentar