Bulan Purnama Salju, Fenomena Langit yang Menarik Perhatian Pecinta Astronomi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pada hari ini, 1 Februari 2026, para penggemar astronomi akan menyaksikan fenomena langit yang sangat istimewa. Dikenal sebagai Bulan Purnama Salju atau Snow Moon, momen ini menawarkan pemandangan yang memukau dan unik. Fenomena ini terjadi ketika Bulan mencapai posisi purnama, yaitu saat seluruh permukaannya terkena cahaya matahari. Pada waktu yang sama, Bulan akan berdampingan dengan bintang Beehive (M44), yang terletak sekitar 577 tahun cahaya dari Bumi.
Makna di Balik Nama “Bulan Purnama Salju”
Nama “Bulan Purnama Salju” tidak hanya sekadar label estetis, melainkan memiliki akar budaya yang dalam. Nama ini berasal dari tradisi masyarakat di belahan Bumi utara, khususnya Amerika dan Eropa. Berdasarkan catatan NASA, nama ini merujuk pada intensitas salju yang biasanya mencapai puncaknya di bulan Februari. Tradisi penamaan ini dipopulerkan oleh penulis Massachusetts, Jonathan Carver, dalam bukunya yang terbit tahun 1778 berjudul Travels through the Interior parts of North America.
Selain dikenal sebagai Bulan Salju, fenomena ini juga memiliki sebutan lain seperti Bald Eagle Moon oleh suku Cree dan Bear Moon oleh suku Ojibwe. Ada pula sebutan Hungry Moon karena kondisi musim dingin yang membuat sumber makanan menipis. Meskipun sebutan ini berasal dari tradisi lama, data meteorologi modern masih menunjukkan bahwa Februari adalah bulan dengan frekuensi badai musim dingin terbanyak.
Keistimewaan Visual dan Fenomena Langit yang Menarik
Pengalaman visual malam ini akan semakin kaya karena posisi Bulan berada tepat di bawah Gugus Beehive (M44), salah satu gugus bintang terbuka yang paling dekat dengan tata surya kita. Meskipun Bulan Purnama dapat dilihat dengan mata telanjang, penggunaan binokular atau teleskop kecil akan mengungkap lebih dari 100 bintang yang berkumpul di gugus tersebut.
Fenomena ini menjadi sangat menarik karena posisi Bulan berada di antara bintang Pollux di konstelasi Gemini dan bintang Regulus di konstelasi Leo. Live Science mencatat bahwa Regulus akan terlihat paling jelas sekitar satu jam setelah Bulan terbit, memberikan kontras cahaya biru-putih di dekat pendaran kuning kemerahan Bulan saat berada di ufuk.
Rentetan Parade Langit yang Dinamis
Bulan Purnama Salju hanyalah pembuka dari maraton fenomena astronomi sepanjang Februari 2026. Tepat pada 17 Februari mendatang akan terjadi Gerhana Matahari Cincin. Fenomena “cincin api” ini terjadi karena Bulan berada pada posisi yang tidak menutupi seluruh piringan Matahari.
Sayangnya, visual penuh gerhana ini hanya bisa dinikmati dari wilayah Antartika dan Samudra Hindia bagian selatan. Namun, bagi masyarakat umum, kejutan berikutnya datang pada 18 dan 19 Februari, saat Bulan sabit tipis akan berdampingan dengan Merkurius dan Saturnus di langit barat tepat setelah senja.
Menjelang akhir bulan, langit malam akan semakin sibuk. Pada 23 Februari, Bulan akan bergerak mendekati gugus bintang Pleiades yang ikonik. Puncaknya, mulai 20 Februari hingga awal Maret, penduduk Bumi akan disuguhi “Parade Enam Planet”. Venus, Merkurius, dan Saturnus akan berbaris di ufuk barat, diikuti oleh Jupiter yang menggantung lebih tinggi, sementara Uranus dan Neptunus tetap bersembunyi di kejauhan dan hanya bisa diintip melalui teleskop.
Dampak dan Ilusi Optik yang Menarik
Meskipun fenomena ini tidak memberikan dampak fisik berbahaya bagi Bumi, ia memberikan efek visual “Moon Illusion” atau Ilusi Bulan. Bulan akan terlihat jauh lebih besar dan dramatis saat berada dekat dengan garis cakrawala. Ini bukan soal atmosfer, melainkan cara otak menipu persepsi kita.
Seluruh rangkaian ini menjadikan Februari 2026 sebagai salah satu bulan paling dinamis bagi pengamatan antariksa sebelum ditutup dengan Gerhana Bulan Total pada 3 Maret mendatang.

>

Saat ini belum ada komentar