Upaya Konservasi Ekosistem Mangrove di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Mangrove, sebagai ekosistem penting yang melindungi pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai biota laut, kini menghadapi ancaman serius akibat penumpukan sampah plastik. Di tengah tantangan ini, lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah (Ecoton) bersama komunitas Replast dan River Warrior melakukan aksi bersih-bersih hutan mangrove di Surabaya. Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati kepedulian terhadap lingkungan dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Dalam kegiatan bertajuk “Make Our Mangrove Green Again”, mereka berhasil mengumpulkan 300 kilogram sampah plastik yang menjerat belasan pohon mangrove. Aksi ini tidak hanya berfokus pada pembersihan, tetapi juga sebagai langkah edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.
Partisipasi Mahasiswa dalam Konservasi Lingkungan
Kegiatan pembersihan ini melibatkan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, termasuk Program Studi Agribisnis Universitas Negeri Jember, Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, serta Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Sebanyak 16 relawan terlibat langsung dalam kegiatan pembersihan dan penyelamatan ekosistem mangrove di Wonorejo Surabaya.
Febrini Marsha Dwi Hardianti, mahasiswa Agribisnis Universitas Negeri Jember, menyampaikan rasa mirisnya melihat kondisi bibir pantai yang dipenuhi tumpukan sampah plastik. Sampah tersebut tidak hanya mencemari pantai, tetapi juga menjerat batang dan akar mangrove, menghambat pertumbuhan dan merusak jaringan tanaman. “Padahal, mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung pesisir dari abrasi, penyerap karbon, serta habitat berbagai biota laut,” ujarnya.
Bahaya Mikroplastik bagi Ekosistem dan Kesehatan Manusia
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menekankan bahwa mikroplastik telah mencemari air, sedimen, hingga organisme perairan. “Mikroplastik ini berbahaya karena dapat masuk ke rantai makanan, mengganggu kesehatan ekosistem, dan pada akhirnya berdampak pada kesehatan manusia,” ungkap dia.
Menurut Sofi, pengelolaan sampah plastik tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat dan relawan. Diperlukan tanggung jawab bersama dengan langkah-langkah nyata, mulai dari produsen wajib bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan melalui mekanisme penarikan kembali, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 15.
Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Pemerintah diharapkan menerapkan pembatasan plastik sekali pakai secara tegas dan merata, terutama melalui Peraturan Gubernur, agar seluruh daerah memiliki standar yang sama dalam pengurangan plastik sekali pakai. “Tanpa perubahan kebijakan dan perilaku secara kolektif, mangrove akan terus berada dalam ancaman serius,” pungkas Sofi.
Selain itu, masyarakat harus mengurangi penggunaan plastik, beralih ke produk guna ulang, serta memilah dan mengelola sampah sejak dari sumber. Aksi ini menjadi pengingat bahwa polusi sampah plastik telah mengancam ekosistem pesisir.
Langkah Konkret untuk Menjaga Keberlanjutan Ekosistem Mangrove
Kegiatan pembersihan mangrove ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian lingkungan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Dengan kolaborasi antara lembaga kajian, komunitas, dan masyarakat, upaya konservasi mangrove dapat terus berjalan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. ***

>

Saat ini belum ada komentar