Tingkat Hunian Hotel di Jawa Timur Mencapai 95% Selama Libur Nataru 2025/2026
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM –Â Liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 memberikan angin segar bagi industri perhotelan di Jawa Timur. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat okupansi kamar hotel mencapai 95%, melebihi target yang sebelumnya ditetapkan. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa minat masyarakat untuk berwisata meningkat, terutama setelah beberapa tahun terakhir dihantam oleh tantangan ekonomi dan pandemi.
Peningkatan Signifikan di Berbagai Wilayah
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur melaporkan bahwa kenaikan okupansi terjadi di hampir seluruh kota dan daerah destinasi wisata. Beberapa wilayah seperti Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, dan Kota Batu mencatatkan tingkat hunian yang sangat tinggi. Di luar kota-kota besar, daerah seperti Blitar, Kediri, Madiun, Jember, hingga Banyuwangi juga mengalami peningkatan signifikan.
Menurut Dwi Cahyono, Ketua PHRI Jawa Timur, capaian ini tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi justru melampaui proyeksi awal. “Alhamdulillah momen libur Nataru periode kali ini rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur 90 sampai dengan 95%,” ujarnya.
Faktor Penyebab Lonjakan Wisatawan
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab lonjakan jumlah wisatawan selama libur Nataru. Pertama, kebijakan pemerintah yang lebih longgar dalam pembatasan mobilitas mendorong masyarakat untuk bepergian. Kedua, adanya promo dan paket liburan dari berbagai hotel dan agen travel yang menarik minat pengunjung. Ketiga, cuaca yang relatif stabil dan kondisi alam yang menarik membuat banyak orang memilih Jawa Timur sebagai tujuan liburan.
Pengaruh Ekonomi dan Perilaku Konsumen
Selain itu, tren pengeluaran masyarakat yang mulai pulih juga turut berkontribusi. Banyak keluarga memilih untuk merayakan liburan dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata yang dekat dengan rumah atau memiliki biaya operasional yang terjangkau. Hal ini menunjukkan bahwa meski inflasi masih menjadi tantangan, masyarakat tetap memprioritaskan kebutuhan akan liburan dan rekreasi.
Proyeksi Ke depan
Setelah libur Nataru berakhir, tingkat okupansi kamar hotel mulai menurun, namun tidak terlalu signifikan. Dwi menjelaskan bahwa saat ini rata-rata tingkat hunian berada di kisaran 65%. Meski demikian, ia optimis bahwa industri perhotelan akan terus bangkit seiring dengan meningkatnya permintaan dan aktivitas pariwisata di Jawa Timur.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar